EnsikloPenjas
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Urai dan Ilmu Faal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Urai dan Ilmu Faal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Respon Neuron Terhadap Luka (Injuri)


Bila suatu sel saraf mengalami trauma yang menghancurkan, sel saraf yang hancur ini tidak dapat diganti baru karena sel saraf tidak dapat berproliferasi, karenanya kerusakan pada SSP bersifat permanen. Akan tetapi jika serat saraf tepi mengalami luka atau terpotong, sel saraf berusaha untuk memperbaiki kerusakan, melakukan regenerasi juluran saraf yang rusak  dan memperbaharui fungsinya dengan cara menstimulus serangkaian proses metabolisma dan proses struktural yang dikenal sebagai reaksi akson. Berdasarkan lokasi terjadinya reaksi akson ini di bagi menjadi 3 bagian yaitu:
1. Reaksi lokal (local reaction): reaksi yang terjadi pada tempat traumanya
2. Reaksi anterograde (anterograde reaction): reaksi yang terjadi pada bagian distal dari tempat  trauma.
3. Reaksi Retrograde: reaksi yang terjadi pada bagian proksimal dari tempat terjadinya trauma.
         Beberapa reaksi berlangsung secara serentak, sementara yang lain mungkin terjadi mingguan atau bulanan.
Reaksi lokal
          Ke dua ujung yang mengalami trauma akan saling berusaha mendekat dan menyatu guna menutup ke dua puntung yang terpotong dan mencegah hilangnya bagian sitoplasma akson. Makrofag kemudian datang untuk memakan dan membersihkan daerah yang luka dari debris (kotoran).
Reaksi Anterograd
          Ujung akson menjadi hipertrofi dan berdegenerasi dalam waktu seminggu, sehingga kontak dengan membran pasca-sinaps akan berakhir. Sel Schwann kemudian akan berproliferasi,  memfa- gositasi puing-puing akson terminal yang hancur dan menduduki ruang sinaps. Bagian distal akson ini mengalami degenerasi Wallerian yang menyebabkan akson menjadi terpecah-pecah dan sel-sel Schwann berproliferasi dengan cepat yang kemudian akan memakan puing-puing akson dan selubung mielin. Jaringan ikat yang menyelubungi serat saraf  tersebut tidak mengalami perubahan. Ruangan yang terdapat di antara jaringan ikat ini kemudian akan terisi oleh sel-sel Schwann yang berproliferasi secara cepat., yang akan berfungsi sebagai penuntun bagi akson yang baru tumbuh yang bergerak menuju ke bagian postsinaps.
Reaksi retrograd
          Perikarion neuron yang hancur menjadi hipertrofi, badan Nisslnya akan tercerai berai dan inti sel akan bergeser dari tempatnya semula. Kejadian ini disebut kromatolisis (chromatolysis). Setelah 3 minggu bila sel saraf luput dari trauma, badan sel kemudian secara aktif mensintesa ribosom-ribosom bebas, protein dan berbagai molekul-molekul berukuran besar (makromolekul). Proses ini dapat berlangsung selama beberapa bulan. Selama masa ini bagian proksimal akson dan selubung mielin yang menyelubunginya akan berdegenerasi. Kemudian beberapa tunas akson akan muncul dari ujung proksimal tersebut, dan berjalan mengisi ruang selubung jaringan ikat dengan dibimbing oleh sel-sel Schwann menuju ke sel sasaran. Tunas yang pertama mencapai sel target akan langsung membentuk sinaps, sementara tunas-tunas yang lain akan berdegenerasi. Proses regenerasi ini berlangsung kira-kira dengan kecepatan 3-4 mm/hari. Sel saraf mempunyai pengaruh tropik (mempengaruhi kehidupan) sel target. Jika sel saraf mati, maka sel-sel lainnya yang merupakan target dari sel saraf tersebut juga akan mengalami atropi dan degenerasi. Proses ini disebut dengan degenrasi transneuron (transneuronal degeneration).
          Regenerasi pada SSP sangat-sangat sulit dibandingkan dengan serat saraf perifer, karena SSP tidak mengandung jaringan ikat. Sel saraf yang rusak di dalam SSP akan difagositosis oleh makrofag yang khas yaitu mikroglia. Ruang-ruang yang telah dibersihkan lewat proses fagositosis ini kemudian akan diduduki oleh sel-sel glia yang berproliferasi secara besar-besaran membentuk parut glia (Glial scar). Adanya glial scar ini menghalangi proses perbaikan, sehingga kerusakan sel saraf di dalalm SSP adalah permanen dan tidak dapat diperbaiki.  


DAFTAR PUSTAKA


1.  Albert, B., Bray, D., Lewis, J., Raff, M., Roberts, K., Watson, J.D. (1994), Cellular 
     Mechaninsm of development in Molecular Biology of The Cell., 3rd Ed., Garland Publishing, 
     New York and London, pp. 1037-1138
2.  Andrianto, P. (alih bahasa), (1985), Textus nervosus and Neuroglia dalam Histologi Atlas 
     Bewarna Anatomi Mikroskopik ( Terjemahan Sobotta-Hammerson), 3 rd Ed., EGC, Jakarta, 
     Indonesia, Hal. 96-108
3.  Bergman, R.A., Afifi, A.K., Heidger, P.M., (1996), Neural Tissue in Histology, W.B. Saunders    
    Company, Philadelphia, USA, pp. 112-132
4. Gartner, L.P., and Hiatt, J.L. (Ed) (1997), Nervous Tissue in Color Textbook of Histology, W.B.    
    Saunders Company, Philadelphia,USA, pp. 155-185.
5.  Kessel, R.G., (1998), Nervous Tissue in Basic Medical Histology: The Biology of Cells, 
    Tissues and Organs, Oxford University Press, New York, USA, pp. 249-275.
6.  Lodish, H., Baltimore, D., Berk, A., Zipursky, S.L., Matsudara, P., Darnell, J., (1986).   
     Microtubule and Intermediate Filament in Molecular Cell Biology, 3rd Ed., Scientific American 
     Books, New York, USA, pp 1051-1119.
7.  Martoprawiro, M., Siswojo, S.K., Wonodirekso, S., Suryono, I., Tambayong, J. (Alih bahasa), 
     Jaringan saraf dan sistim saraf dalam Atlas Histologi Manusia (terjemahan Marianno S.H. 
     diFiore), Edisi 6, EGC, Jakarta, Indonesia, Hal. 66-84.
8.  Ross, M.H., Romrell, L.J.L. (1985), Nervous Tissue in Histology A Text and Atlas, 2nd Ed.,  
     Williams Wilkins, Baltimore, USA, pp. 241-264
9.  Tambayong, J. dan Wonodirekso, S. (Penyunting),(1985), Jaringan Saraf dalam:  Buku Ajar 
     Histologi (Terjemahan Leeson and Leeson Papparo), EGC, Jakarta, Indonesia, pp.210-248
10. Tanzil, R., Diktat Kuliah Saraf (1996), Bagian Histologi FKUI.
11. Wheater P.R., Burkitt, H.G., Daniels, V.G., (1987), Nervous Tissue in Functional Histology, A
      Text and Colour Atlas, Longman Group, Hongkong, pp. 95-117 
12. Wilson, K.J.W., Waugh, A. (1998), The Nervous System in Ross and Wilson Anatomy and
      Physiology, 8th ed., Churchill Livingstone, London, UK, pp. 140-189.
13. Young B., Heath, J.W. (2000), Nervous Tissue in Wheater’s Functional Histology: A Text and
      Color Atlas, 4th ed., Churchill livingstone, London, UK, pp. 116-142.

CATATAN KULIAH

ASPEK HISTOLOGIS DALAM NEUROSAINS

AHMAD AULIA JUSUF, MD, Ph.D
RADIANA DHEWAYANI ANTARIANTO, MD, M.BIOMED

Bookmark and Share
Read More..

Susunan Saraf Otonom


Walapun secara anatomi susunan saraf otonom digolongkan ke dalam SST, tetapi secara fungsional merupakan sistim yang terpisah yang sangat dipengaruhi oleh SSP. Sistim saraf ini berperan untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh yang disebut sebagai homeostasis.  Sistim ini mengatur:
            1.  Sekresi kelenjar
                 2.  Kontraksi dan kecepatan denyut otot jantung
            3.  Kontraksi dan kecepatan kontraksi otot polos.
                 4.  Sistim sirkulasi darah.
         Sejak sistim ini ditemukan oleh Langley tahun 1921, sistim ini hanya meliputi serat eferen viseral saja. Pendapat ini sesungguhnya sudah tidak tepat lagi karena disamping serat eferen juga ada serat aferen (serat saraf sensoris viseral) yang memberi informasi pada badan kita akan adanya rasa sakit atau tidak enak yang terjadi di dalam tubuh yang tidak terpisahkan dari sistim ini seperti rasa berdebar-debar karena detak jantung yang cepat, rasa melilit pada perut  dan sebagainya.  Walaupun sistim ini berfungsi secara otomatis, tetapi tetap dikendalikan oleh SSP, misalnya emosi terhadap lingkungan sekitar.
         Pusat koordinasi antara sistim saraf ini dengan bagian saraf lainnya terletak di hipotalamus.
Sistim saraf otonom mempunyai 2 buah neuron motorik yaitu sebuah di dalam substansia grisea medula spinalis atau batang otak (brain stem) yang disebut neuron preganglionar dan sebuah diluar SSP (di dalam ganglia) yang disebut sebagai neuron postganglionar.  Sistim saraf otonom ini  terdiri atas sistim saraf simpatis dan parasimpatis.  

Sistim Persarafan Simpatis

          Neuron preganglion sistem saraf simpatis mulai dari vertebra torakal pertama sampai vertebra lumbal ke tiga, karenanya disebut juga sebagai divisi torakolumbar sistim saraf otonom. Serat preganglionik bermielin dan meninggalkan medula spinalis via akar atau radiks ventral (motorik) nervus spinalis. Serat saraf ini kemudian bersinaps dengan neuron postganglionik di dalam ganglia. Selanjutnya serat saraf postganglionik ini akan menuju ke organ sasaran.
Berdasarkan lokasinya neuron postganglion ini terbagi atas 3 yaitu :
        1. Ganglion paravertebra
        2.  Ganglion prevertebra
        3.  Ganglion terminal
Ganglion Paravertebralis
Letaknya antero-lateral medula spinalis, terbentang mulai dari vertebra servikal pertama sampai vertebra sakral terakhir, membentuk trunkus simpatis (trunkus=rantai). Terdapat hubungan antara trunkus kiri dengan kanan. Ganglion ini memberikan cabang postganglionar yang mengurus persarafan simpatis sistim sirkulasi darah dan kelenjar yang terdapat di seluruh tubuh.
Ganglion Prevertebra
Letaknya di daerah anterior kolumna vertebralis, membentuk pleksus abdominalis. Ada 3 buah ganglion prevertebral yaitu:
           1.  Ganglion Seliaka (Celiac).
                2.  Ganglion Mesenterika Superior.
           3.  Ganglion Mesenterika Inferior.
Serat saraf preganglionar keluar dari medula spinalis via akar atau radix ventral dan selanjutnya menuju ganglion prevertebral melintasi trunkus simpatis yang dibentuk oleh ganglion paravertebralis.

Ganglion Terminalis
Letaknya paling perifer, dekat sekali dengan organ yang akan dipersarafinya.
Kedua serat saraf postganglionar dari ganglion prevertebral dan terminalis akan mensarafi otot polos yang terdapat diseluruh tubuh. Semua serat saraf postganglionik adalah serat saraf tak bermielin.


Sistim Persarafan Parasimpatis
          Sistim  parasimpatis berbeda dengan simpatis dalam beberapa aspek yaitu:
1.  Serat saraf preganglionnya berjalan keluar dari SSP bersama nervus kranial III, VII, IX dan X
     yang keluar dari otak tengah (midbrain) dan batang otak (brainstem) dan bersama nervus
     sakralis 2, 3 dan 4, karena itu sistim parasimpatis dikenal juga sebagai divisi Kraniosakral
     Sistim Saraf Autonom.
2.  Mempunyai serat preganglioner yang panjang terbentang dari otak atau saraf spinal sakral 
     sampai ke ganglion terminal yang letaknya dekat dengan organ sasaran.
3.  Ganglion parasimpatis tidak tersusun dalam suatu rantai melainkan hanya berupa kumpulan
 sel saraf  yang difus yang tersebar bersama kapsul/simpainya atau antara jaringan suatu organ 
 (contohnya ganglion Auerbach dan Meissner di dinding usus). 
          Secara histologik, perikarion dari sel-sel ganglion ini membentuk kelompokan yang tersebar  yang dikelilingi oleh jaringan ikat. Di sekitar sel-sel ganglion terdapat sel-sel satelit. Contoh ganglia parasimpatis adalah ganglia siliaris, genikulata, submandibula, otik, pterigopalatina, ganglia Meissner dan Aurbach di kolon dan ganglia vesikalis di vesika urinaria.
         Serat saraf preganglioner yang berjalan bersama saraf kranial berkaitan dengan fungsi sekresi kelenjar, contohnya kelenjar lakrimal, kelenjar liur, dan sebagainya. Serat saraf preganglioner yang berjalan bersama saraf kranial X akan bersinaps dengan neuron postganglionik yang akan mempersarafi organ-organ yang terdapat di rongga abdomen dan toraks. Serat saraf preganglionik yang keluar dari segmen sakral akan bersinaps dengan neuron postganglionik yang akan mempersarafi organ-organ yang terdapat di dalam rongga  pelvis, seperti kolon, rektum, vesika urinaria, dan sebagainya.

Bookmark and Share
Read More..

Bagian-Bagian Otak Pada Manusia


OTAK
          Otak terdiri atas otak besar atau serebrum dan otak kecil atau serebelum.  Disamping itu ada bangunan berbentuk tabung yang letaknya di bagian inferior disebut batang otak (brainstem) yang terdiri atas midbrain, pons dan medulla oblongata yang berisi pusat-pusat vital.

SEREBRUM
          Serebrum dibagi oleh falks serebri menjadi 2 bagian yang serupa disebut hemisfer serebri kiri dan kanan. Didalam hemisfer serebri substansia grisea terdapat dipermukaan (terbalik dengan medula spinalis), berupa korteks serebri dan dibawahnya terdapat substansia alba dan lebih kedalam lagi terdapat nukleus. Di dalam substansia grisea dan nukleus terdapat perikarion, dan di dalam substansia alba terdapat akson bermielin. Secara histologis, serebrum terdiri atas 6 lapisan yaitu : (Gb-34) 
1. Lapisan Molekular, terutama terdiri atas serat-serat yang berasal dari sel-sel lapis lebih dalam, yang berjalan paralel terhadap permukaan dan sedikit badan sel saraf yang dikenal sebagai sel horisontal (Cajal). Sel ini berukuran kecil dengan bentuk pipih (gepang) dengan akson dan dendritnya berjalan sejajar permukaan dan berkontak dengan dendrit sel piramid dan fusiform serta akson sel stellate.
2. Lapis granular luar, terdiri terdiri atas badan-badan sel saraf kecil berbentuk segitiga/piramid  yang berukuran 10-50 mikrometer. Dendritnya mengarah ke lapisan molekular dan bercabang-cabang, sementara aksonnya mengarah ke lapisan di bawahnya dan substansia alba. Sel lainnya yang terdapat pada lapisan ini adalah sel stellate (sel granular) yang berukuran kecil (8 mikrometer) dan berbentuk poligonal.  Akson sel granular ini panjang dan mengarah ke lapisan molekular, sementara dendritnya pendek mengarah ke lapisan di bawahnya. 
3. Lapis sel-sel pyramid luar, terdiri atas sel-sel piramid yang ukurannya makin ke dalam semakin bertambah besar. Dendritnya mengarah ke lapisan molekular sementara aksonnya menuju ke arah substansia alba
4. Lapis granular dalam, terdiri atas sel-sel granula bercabang (stelata) halus dan sel-sel pyramid
5. Lapis pyramid dalam atau lapis ganglion terdiri atas sel-sel piramid besar dan sedang. Disamping itu juga terdapat sel stellate dan sel Martinotti. Sel Martinotti merupakan sel saraf multipolar berukuran kecil, dengan dendrit yang pendek mengarah ke lapisan di atasnya, sedangkan aksonnya berjalan ke arah lateral.
6. Lapis sel-sel multiform atau polimorf, terdiri atas sel-sel dengan macam-macam bentuk. Kebanyakan sel yang terdapat disini adalah sel fusiform dengan dendritnya yang panjang mengarah ke arah lapisan di atasnya.
          Semua lapis ini tidak mempunyai batas yang tegas dan semuanya juga berisi neuroglia. Substansia alba terdiri atas gabungan serat saraf bermielin yang menyebar kesegala arah. Serat-serat ini ditunjang oleh neuroglia dan secara fungsional terdiri atas 3 kelompok:
1.  Serat menghubungkan macam-macam bagian korteks pada satu hemisfer disebut serat asosiasi.
2. Serat yang menghubungkan bagian korteks hemisfer kiri dan kanan disebut serat komisural.      3.  Serat yang menghubungkan korteks serebri dengan nukleus (pusat-pusat) dibawahnya  disebut 
     serat proyeksi.
          Serebrum atau otak besar mempunyai fungsi untuk menyimpan memori, berperan penting dalam proses berpikir, belajar, rasa bertanggung jawab, analisa – sintesa dan berperan dalam proses moral. Serebrum juga berperan untuk menerima, mengolah dan memberikan respon jawaban terhadap rangsangan sensoris seperti pengaturan temperatur tubuh, rasa rabaan, penglihatan, pendengaran, penghidu, rasa / kecap. Disamping itu bagian otak ini berfungsi untuk mengontrol kontraksi otot-otot sadar ( skeletal )

SEREBELLUM 
            Serebelum terbagi dua kiri dan kanan oleh bangunan seperti cacing bewarna abu-abu yang disebut vermis. Permukaannya berlipat-lipat disebut folia (=daun) yang tersusun paralel terhadap fissura (alur) utama. Substansia grisea serebelum terdapat di permukaan berupa korteks tipis. Di bawahnya terdapat substansia alba yang juga berisi kelompokan kecil perikarion membentuk pusat-pusat (nukleus). 

Korteks serebellum terdiri atas 3 lapisan
, yaitu dari luar ke dalam:
1. Lapisan Molekular yang merupakan lapisan terluar. Lapisan ini berisi sedikit sel saraf kecil dan banyak serat saraf tidak bermielin.
2. Lapisan sel Purkinje atau disebut juga lapisan ganglioner, berisi sel Purkinje yang tampak  besar, dengan dendritnya bercabang seperti tanduk menjangan dan letaknya dalam satu bidang masuk kedalam lapisan  molekular, dengan satu akson yang masuk kedalam lapis dibawahnya.
3. Lapisan Granular, berisi banyak perikarion kecil. Sel saraf dari lapisan granular ini kecil-kecil     dengan 3-6 dendrit yang naik kedalam lapisan molekular, dan disini ia terbagi atas 2 cabang  lateral yang terdapat sepanjang suatu folium.

Bookmark and Share
Read More..

Susunan Saraf Pusat


Susunan saraf pusat terdiri atas otak dan medula spinalis. Susunan saraf pusat berfungsi untuk menerima dan mengintegrasikan semua rangsang yang diterima dari luar tubuh (eksteroseptif) dan dari dalam tubuh (interoseptif) melalui reseptor-reseptor tertentu. Rangsang yang diterima oleh reseptor diubah menjadi impuls saraf dan diteruskan ke SSP.  Oleh SSP impuls saraf ini kemudian diterima, diolah dan diintegrasikan. SSP kemudian menjawab impuls yang diterima tersebut dan akan mengirim impuls jawaban ke organ-organ efektor seperti otot, kelenjar, dan sebagainya. Impuls yang diterima juga dapat disimpan sebagai memori untuk waktu selanjutnya dan dapat direcall (dipanggil) kembali sewaktu diperlukan.

          Secara histologi susunan saraf pusat terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
1.  Neuron.
     Pada medulla spinalis neuron terletak di dalam kolumnar berbentuk huruf H (daerah substansia
     grisea atau daerah abu-abu). Sedangkan didalam otak letaknya di lapisan permukaan korteks 
     serebri (juga daearah substansia grisea) dan dibagian dalam otak yaitu di nukleus (kumpulan 
     neuron dengan fungsi khusus).
2.  Neuroglia  
     Neuroglia merupakan sel-sel penyokong sel-sel saraf.
3.   Serat saraf
      Umumnya serat saraf  merupakan akson yang panjang dengan atau tanpa mielin. Kebanyakan 
      serat saraf ini bergabung membentuk suatu ikatan suatu ikatan yang disebut traktus.
4.   Struktur tambahan yang membantu atau memelihara, melindungi sel saraf yang terdapat di 
 dalam SSP seperti pembuluh darah, cairan serebro-spinal (likuor serebri), selaput otak dsbnya.

Substansia Grisea dan Alba
          Otak dan medula spinalis terdiri atas 2 lapisan yaitu bagian yang bewarna abu-abu (substansia grisea) dan yang bewarna putih (substansia alba).  Pada substansia grisea terletak terletak perikarion dan serat saraf tak bermielin. Dalam keadaan segar bagian ini bewarna abu-abu. Sedangkan substansia alba terdiri atas akson bermielin yang dalam keadaan segar bewarna putih karena adanya myelin dan dendrit 

MEDULA SPINALIS

            Medula spinalis yang terpotong melintang terdiri atas bagian putih disebelah luar yang disebut substansia alba dan bagian yang bewarna abu-abu (lebih gelap) berbentuk huruf H atau kupu-kupu disebut substansia grisea. Di bagian tengah terdapat saluran kecil yang disebut kanalis sentralis.
            Substansia alba medula spinalis berisi akson dengan fungsi khusus yaitu motorik dan sensoris yang disebut funikulus. Ada 3 funikulus yaitu dorsal, ventral, dan lateral. Masing-masing funikulus ini beirisi kumpulan serat saraf yang lebih kecil disebut traktus atau fasikulus. Substansia grisea medula spinalis berisi perikarion yang merupakan pusat tropik dan sangat banyak terdapat sinaps neuron. Kornu anterior medula spinalis pada sajian tampak sebagai bagian sayap yang gemuk dan merupakan daerah yang paling banyak mengandung neuron. Sel saraf motorik pada daerah ini merupakan sel saraf multipolar dengan ciri histologisnya yaitu selnya besar biasanya poligonal. Sitoplasmanya bercabang-cabang dan intinya besar, berbentuk bulat atau lonjong dengan anak inti yang jelas. Dendrit dan aksonnya terlihat jelas. Badan sel dan dendrit mengandung badan Nissl, sedangkan bagian aksonnya tidak mengandung badan Nissl. Pangkal akson yang disebut “gumuk akson” atau akson hilok (axon hillock) tidak mengandung substansia Nissl.
Funikulus dorsalis digolongkan sebagai traktus asendens dan terdiri atas fasikulus gracilis dan cuneatus yang membawa informasi propioseptif, rasa getar (vibrasi), dan diskriminasi taktil serta traktus intersegmen posterior yang akan menghubungkan bagian kiri dan kanan medula spinalis. Funikulus lateral terdiri atas traktus spinocerebellar posterior (propioseptif, rasa sentuh dan tekan), traktus spinocerebellar anterior (propioseptif, rasa sentuh dan tekan), traktus spinotalamikus lateral (sensibilitas nyeri dan suhu), traktus spinotectal (refleks spinovisual), traktus posterolateral /Lissauer, traktus spinoretikular, traktus spinoolivary (informasi dari kulit dan propioseptif). Funikulus lateral yang tersebut di atas ini digolongkan ke dalam traktus asenden. Traktus pada funikulus lateral yang digolongkan sebagai traktus desenden adalah traktus kortikospinal lateral
(gerakan volunter), traktus rubrospinal (aktivitas otot), traktus retikulospinal lateral (aktivitas muskular), traktus autonomik desenden (fungsi viseral), traktus olivospinal (aktivitas muskular). Traktus yang lainya adalah traktus intersegmen lateral (menghubungakn bagian kiri dan kanan medula spinalis). Funikulus anterior terdiri atas traktus spinotalamikus anterior (rasa taktil dan tekan) yang bersifat asenden; traktus kortikospinal anterior (gerakan volunter), traktus vestibulospinal (kontrol tonus otot), traktus tektospinal (gerakan tangan dan kepala), traktus retikuloinal (fungsi motorik) yang digolongkan sebagai traktus desenden. Traktus yang lainnya adalah traktus intersegmenal anterior (menghubungakn bagian kiri dan kanan medula spinalis). Substansia grisea medula spinalis berisi perikarion yang merupakan pusat tropik dan di daerah ini sangat banyak terdapat sinaps neuron. Kumpulan sel-sel saraf pada substansia grisea ini disebut sebagai nukleus.
Kornu anterior medula spinalis pada sajian tampak sebagai bagian sayap yang gemuk dan merupakan daerah yang paling banyak mengandung neuron. Sel saraf motorik pada daerah ini merupakan sel saraf multipolar dengan ciri histologisnya yaitu selnya besar biasanya poligonal. Sitoplasmanya bercabang-cabang dan intinya besar, berbentuk bulat atau lonjong dengan anak inti yang jelas. Dendrit dan aksonnya terlihat jelas. Badan sel dan dendrit mengandung badan Nissl, sedangkan bagian aksonnya tidak mengandung badan Nissl. Pangkal akson yang disebut “gumuk akson” atau akson hilok (axon hillock) tidak mengandung substansia Nissl. Kebanyakan sel saraf motorik  yang terdapat di kornu anterior adalah sel saraf motorik besar yang aksonnya akan keluar melalui akar depan (anterior root) dan dikenal sebagai serat saraf alpha eferen yang akan mempersarafi otot skelet (otot rangka). Sel saraf motorik kecil juga akan melintasi akar depan (anterior root) membentuk serat saraf gamma eferen yang akan mempersarafi muscle spindle. Sel saraf motorik dikelompokkan dalam kelompok medial, sentral dan lateral. Sel-sel saraf yang terdapat pada kornu posterior (dorsal) dikelompokkan menjadi substansia gelatinosa, nukleus propius, nukleus dorsalis (Clark’s nukleus), nukleus viseral afferent. Sel-sel saraf yang terdapat pada kornu lateral dikelompokan sebagai grup intermediolateral. 

Bookmark and Share
Read More..

Struktur dan Fungsi Saraf


Jaringan saraf secara mikroskopik disusun oleh sel-sel saraf (neuron) yang disokong oleh sel-sel penyokong yang dikenal sebagai sel-sel neuroglia atau sel-sel glia (glia, Gr: lem).

A.   Sel Saraf (Neuron)
      Bangunan histologik sel saraf sangat khas terdiri atas badan sel (soma atau perikarion) dan julurannya (prosesusnya) yang terdiri atas satu akson dan beberapa dendrit.
     Neuron merupakan sel yang paling tinggi differensiasinya dan tidak dapat membelah lagi. Jumlah neuron di seluruh sistim saraf kita sangat besar diduga sekitar 14 milyar. Secara histologis terdiri atas badan sel saraf (perikarion) dan juluran saraf (prosessus saraf) yang terdiri atas akson dan dendrit.

 Badan sel saraf 
        Perikarion dibentuk oleh inti dan sitoplasma yang melingkupinya. Di dalam inti terdapat DNA yang merupakan pembawa sifat turunan, sedangkan dalam sitoplasma terdapat berbagai organel dan badan inklusi. Bentuk dan besar perikarion sangat beragam 4-135 mikrometer. Ada yang berbentuk piramid, lonjong, bulat dan sebagainya. Meskipun beragam, tetapi semua badan sel saraf mempunyai ciri yang khas, berupa struktur-struktur:
1.      Nukleus (inti sel)
Nukleus pada umumnya besar, berbentuk bulat atau sedikit lonjong, bewarna pucat, dan umumnya terletak di pusat perikarion. Nukleolusnya pada umumnya satu dan tampak sangat jelas terlihat di bawah mikroskop cahaya. Pada inti sel terdapat rantai double helix ”deoxyribonucleate  acid (DNA)” yang merupakan pembawa kode genetik. Inti yang besar, pucat, vesikular dengan nukleolus yang menonjol seringkali memberi kesan seperti mata burung hantu (Owl eyes)
2.      Sitoplasma 
Sitoplasma diisi dengan beragam organel dan granula (badan inklusi) yang tersusun kurang lebih mengitari inti. Organel adalah struktur-struktur atau bangunan yang terdapat di dalam sitoplasma yang diperlukan untuk mem-pertahankan kehidupan dan menjalankan fungsi-fungsi sel secara keseluruhan. Badan inklusi adalah struktur-struktur yang terdapat di dalam
sitoplasma yang dipergunakan sebagai gudang atau tempat penyimpanan zat-zat atau substansi tertentu. 
Organel-organel yang terdapat di sitoplasma adalah:
A.     Sitoskeleton
B.     Apparatus (kompleks) Golgi
C.     Mitokondria
D.     Badan Nissl (endoplasmik retikulum kasar/ rough endoplasmic reticulum) dan ribosom
E.      Sentriol
Sitoskeleton, apparatus Golgi, dan mitokondria hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron (ME), sedangkan badan Nissl dan badan inklusi dapat dilihat dengan mikroskop cahaya (MC)
A. SITOSKELETON
           Dengan mikroskop elektron (ME) tampak bahwa komponen utama sitoskeleton adalah neurofilamen dan mikrotubulus yang tersusun dalam kelompokan yang berjalan secara paralel dan tersebar di seluruh perikarion, akson dan dendrit. Neurofilamen yang terdapat di neuron merupakan filamen berukuran menengah (intermediate filament) yang mempunyai ketebalan 7.5 sampai 10 mikrometer dan berfungsi sebagai penyokong. Mikrotubulus berfungsi dalam transportasi ensim-ensim, neurotransmitter, protein penyusun membran, dan molekul-molekul penyusun komponen sel lainnya.  Dengan mikroskop cahaya (MC) neurofilamen tampak sebagai neurofibril yang dapat diwarnai dengan pulasan perak dan memberikan warna coklat kehitaman.

B. Apparatus Golgi
          Apparatus Golgi biasanya besar letaknya paranuklear, tersusun dari gelembung-gelembung
 yang tidak mengandung granular (“agranular vesicles”). Kompleks Golgi merupakan tempat pembentukan glikoprotein yang dibuat dari ikatan karbohidrat dan protein. Gelembung-gelembung kecil yang dibentuk dari apparatus Golgi diduga merupakan sumber gelembung sinaps (synaptic vesicles) yang ditemukan pada ujung akson (axon terminal).
C. Mitokondria
          Mitokondria biasanya kecil lonjong atau berbentuk seperti bola, dengan krista jenis tubular atau lamelar. Mitokondria terutama terdapat dalam jumlah banyak di ujung akson, selain itu juga ditemukan pada perikarion, dendrit dan akson. Mitokondria berperan dalam mengatur proses metabolisme di dalam sel saraf.

D. Badan Nissl/ Retikulum Endoplasmik Kasar
          Badan Nissl merupakan struktur yang dibentuk dari banyak tumpukan endoplasmik retikulum (endoplasmic reticulum/ER) granular/kasar (rough endoplasmic reticulum). Pada permukaan luar membran badan Nissl/ER terdapat ribosom yang tersusun dalam barisan, spiral, dan menempel pada permukaan luar membran ER. Dengan pulasan HE, badan Nissl bewarna biru (basofilik)  dan terdapat dalam perikarion dan dendrit, tetapi tidak terdapat pada akson. Karena polanya pada badan sel saraf mirip dengan corak pada kulit macan tutul maka sering disebut sebagai Substansia Tigroid.  Badan Nissl tampak jelas pada neuron yang berukuran besar seperti pada neuron motoris di kornu anterior medula spinalis dan di sel ganglion. Badan Nissl merupakan tempat sintesa protein.

E.  Sentriol
Sentriol merupakan ciri khas sel saraf yang sedang membelah pada massa embrional. Neuron 
pada orang dewasa tidak dapat membelah lagi. Meskipun demikian kadang-kadang dapat ditemukan sentriol juga.
Badan inklusi yang ditemukan pada perikarion sel saraf adalah
(1). Vesikel
           Neuron yang mensintesa katekolamin mengandung vesikel yang berisi neurotransmitter dan ensim-ensim.
(2). Granular
           Neuron di hipotalamus mengeluarkan sekret neural berbentuk granular yang berisi hormon  vasopressin, oksitosin dan neurofisin. Granul ini disalurkan oleh akson ke neurohipofisis dan  kemudian akan dicurahkan kedalam pembuluh darah.
          Granula pigmen melanin terdapat pada neuron tertentu di otak seperti substansia nigra pada otak tengah, ganglion spinal dan sel-sel saraf pada dasar ventrikel yang ke-empat. Fungsinya masih belum diketahui. 
           Granula lifofuksin tampak sebagai granula bewarna kuning kecoklatan dan terdapat pada neuron-neuron yang berukuran besar. Jumlahnya bertambah sesuai dengan pertambahan usia.
            Granula yang mengandung besi ditunjukkan dengan teknik Prussian blue, terdapat pada beberapa sel saraf, seperti sel-sel saraf di globus pallidus.  Jumlah granula bertambah sesuai dengan bertambahnya usia.
           Tetes –tetes lemak biasanya kelihatan di dalam perikarion dan memainkan peran sebagai bahan  cadangan atau merupakan hasil metabolisme normal atau patologis.
           Glikogen terdapat pada neuron embrio, neuroglia embrio, dan dalam ependim dan pleksus koroid embrio, tetapi tidak ada pada jaringan saraf orang dewasa dalam jumlah yang cukup banyak untuk dideteksi.
Juluran Neuron
          Ciri paling khas dari suatu neuron adalah juluran atau prosesus sitoplasmanya yang terdiri atas dendrit dan akson. Dendrit dan akson terdapat pada hampir semua neuron.
1.  Dendrit 
     Umumnya satu neuron mengandung beberapa dendrit, contohnya neuron motorik pada kornu anterior  medula spinalis. Kebanyakan dendrit terlihat bercabang dan cabang-cabangnya menjadi lebih kecil diameternya daripada cabang utama. Ciri-ciri histologis dendrit adalah:
a.    Pangkalnya lebih tebal dan semakin kedistal  semakin tipis.
b.    Tiap dendrit dapat bercabang menjadi cabang primer, sekunder tertier dan seterusnya.
c.    Permukaannya diliputi oleh tonjolan kecil atau duri (spine/gemullae) yang berfungsi sebagai tempat kontak sinaps.
d.    Batang utama dendrit mengandung badan Nissl, ribosom bebas, mitokondria, mikrotubulus dan mikrofilamen, tetapi kandungan badan Nissl dan ribosom bebas makin berkurang oleh percabangannya sampai organel tersebut tidak ada pada ranting yang     sangat kecil.  Dendrit tidak mempunyai kompleks Golgi.
       Fungsi dendrit adalah menerima rangsang saraf dari ujung akson neuron lainnya melalui sinaps akso-dendritik. Dendrit mempunyai peranan yang sangat penting bagi kemampuan neuron untuk mengintegrasikan informasi yang datang dalam jumlah banyak. Rangsang saraf yang datang dapat merangsang atau menghambat kegiatan listrik pada membran dendrit, yaitu menaikkan atau menurunkan ambang rangsang neuron.
        Ambang rangsang adalah suatu nilai dalam millivolt yang harus dilalui agar membran saraf tersebut dapat mengalami depolarisasi dan dengan demikian timbul arus listrik yang merambat. Dengan demikian neuron tersebut dapat meneruskan atau menghambat rangsangan yang datang. Rangsangan saraf yang diterima oleh dendrit umunya merambat ke arah badan sel saraf. 
2.   Akson
            Setiap sel saraf mempunyai satu juluran panjang dengan pangkal yang menjorok masuk ke dalam perikarion yang dikenal sebagai akson Hillock. Ciri histologis akson adalah:
a.    Mempunyai pangkal akson pada perikarion yang disebut akson Hillock.
b.    Umumnya lebih tipis (halus) dan jauh lebih panjang daripada dendrit pada neuron yang sama.
c.    Aksoplasma tidak mengandung struktur apapun yang berperan dalam sintesa protein seperti badan Nissl (rough endoplasmic reticulum), ribosom dan kompleks Golgi.
d.     Aksoplasma mengandung neurofilament, mikrotubulus dan mitokondria.
e.    Sebagian besar akson bermielin dan karenanya tampak putih mengkilat dalam keadaan segar. Selubung mielin bukan merupakan bagian dari neuron, tetapi merupakan bagian dari selubung  neuron. Selubung mielin hanya ada pada akson dan tidak pernah pada dendrit. Tetapi ada pula akson yang tidak bermielin. Bila dengan mikroskop cahaya terlihat serat saraf bermielin maka sudah tentu itu adalah akson. Bila serat sarafnya tidak bermielin maka serat tersebut mungkin akson dan mungkin pula dendrit.
f.     Ujung akhir akson bercabang-cabang seperti ranting yang disebut telodendria yang berkontak dengan perikarion, dendrit, atau akson dari satu neuron atau lebih pada sinaps.
g.    Pada ujungnya ranting aksonal memperlihatkan pembengkakan kecil disebut “boutons terminaux”.
        Fungsi akson adalah meneruskan atau menyalurkan rangsang saraf ke neuron lainnya, serat otot atau sel kelenjar.
Berdasarkan jumlah julurannya, dikenal 3 jenis neuron: (Gb-18)
1.    Neuron unipolar
     yaitu neuron yang hanya mempunyai satu juluran. Contohnya neuron unipolar pada masa embrio
2.    Neuron bipolar
       yaitu sel saraf berbentuk kumparan dengan 2 juluran yang masing-masing keluar dari ujung perikarion (badan sel saraf).  Contohnya ganglion vestibular dan koklear di telinga, neuron olfaktoris di regio olfaktoria hidung.
Neuron pseudo-unipolar
yaitu neuron yang berbentuk oval yang pada awalnya berbentuk bipolar, tetapi pada perkembangan selanjutnya juluran yang pada mulanya saling bertolak belakang, kemudian menggeser, mengitari perikarion, menghampiri satu dengan lainnya dan menyatu membentuk satu prosesus tunggal.      Prosesus tunggal tersebut berpangkal pada perikarion dan pada ujung distalnya bercabang dua sehingga mirip huruf T. Contohnya adalah neuron pada ganglia kranio-spinal. Satu cabangnya mengarah ke perifer dan cabang lainnya mengarah ke pusat masuk ke radiks posterior saraf menuju ke SSP.
3.    Neuron multipolar
yaitu neuron berbentuk poligonal yang mempunyai banyak prosesus. Bentuk neuron ini  merupakan bentuk yang paling banyak dijumpai ditubuh kita.  Contohnya neuron motorik di kornu anterior medulla spinalis, batang otak, korteks serebri/otak besar (sel piramid) dan korteks serebelli/otak kecil (mempunyai bentuk yang sangat khas bagaikan tanduk menjangan yang bercabang-cabang).

Fungsi Neuron
          Fungsi dasar jaringan saraf adalah melakukan komunikasi. Fungsi tersebut tergantung pada sifat-sifat khas dari badan saraf dan julurannya yang panjang. Sifat khas tersebut tergantung pada dua sifat dasar protoplasmanya:
1.  Kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsangan fisik dan kimiawi (iritabilitas).
2.  Kemampuan untuk menyebarkan rangsangan tersebut dari satu tempat ketempat lain
 (konduktivitas).
Fungsi motorik, sensorik dan integratif suatu sel saraf terutama tergantung pada sifat iritabilitas dan konduktivitasnya. Selain itu beberapa sel saraf dapat melakukan sekresi mirip sistim endokrin yang menghasilkan hormon (sekret neural) yang disalurkan melalui akson dari tempat pembentukannya ke tempat lain. Hasil sekret sel saraf tersebut tersebut dilepaskan dari ujung akson ke dalam ruang perivaskular masuk ke dalam pembuluh darah dan kemudian diangkut dari darah ke organ sasaran.

B.   Sel Glia (neuroglia cells)
         Istilah neuroglia berasal dari nerve glue (nerve=saraf dan glue= lem) berfungsi sebagai penyokong dan penyatu  jaringan saraf. Neuroglia merupakan 70-80% dari seluruh sel yang ada di SSP. Sel neuroglia umumnya kecil dan hanya intinya terlihat pada sediaan rutin dengan diameter 3-10 mikrometer. Neuroglia paling baik dipelajari dengan teknik impregnasi perak dan emas khusus yang memperlihatkan seluruh sel. Macam-macam sel Glia adalah
1.   Mikroglia berasal dari mesoderm
2.   Oligodendroglia berasal dari ektoderm
3.  Astrosit fibrosa berasal dari ektoderm
4.  Astrosit protoplasmatis berasal dari ektoderm
5.      Sel ependim berasal dari ektoderm.
6.      Sel Schwann  di SST
7.      Sel Satelit di SST

Astrosit
Bentuknya seperti bintang (astra) dengan banyak cabang sitoplasma yang hanya dapat dilihat dengan teknik impregnasi perak. Intinya besar, bulat atau lonjong dan pucat (vesikular). Nukleoli tidak jelas. Sitoplasmanya mengandung ribosom, kompleks Golgi, lisosom dan neurofilamen. Neurofilamen memberi ketegaran pada proses astrositik. Cabang sitoplasmanya mengelilingi dan berhubungan dengan kapiler darah. Ada 2 macam astrosit:
1.    Astrosit protoplasmatik 
Banyak ditemukan di dalam substansia kelabu (substansia grisea) otak dan sedikit di dalam substansia putih (substansia alba).
Badan sel kurang lebih sama dengan sel piramid (sel saraf pada korteks serebrum). Inti  sel juga besar tetapi sukar dikenali. Sitoplasmanya bercabang banyak, pendek dan gemuk atau tebal. Setiap cabang lalu bercabang-cabang lagi beberapa kali menjadi cabang yang lebih kecil sehingga gambarannya mirip lumut. Kadang-kadang dapat ditemukan cabang yang menempel pada pembuluh darah yang disebut kaki perivaskular yang berperan dalam membentuk sawar darah otak (Blood Brain Barrier)
2.    Astrosit fibrosa
Terutama terdapat di dalam substansia alba dan sedikit di dalam substansia kelabu. Besarnya kurang lebih sama dengan astrosit protoplasmatik. Inti selnya juga sukar dilihat. Percabangan sitoplasmanya juga banyak tetapi kurus-kurus atau tipis sehingga gambarannya mirip dengan binatang bulu babi. kadang-kadang juga ditemukan kaki perivaskular.
Fungsi astrosit selain sebagai sel penyokong juga berfungsi untuk :
1.    Menyerap kelebihan ion kalsium yang lolos dari sel saraf selama proses konduksi impuls saraf.
2.    Berperan dalam transportasi zat metabolisme antar neuron.
3.    Berperan dalam pembentukan jaringan parut di SSP bila mengalami cedera. 
        Bila terjadi cedera pada SSP dan neuronnya rusak, maka astrosit menjadi sangat reaktif dan disebut astrosit hipertrofi dan astrosit reaktif menggantikan tempat neuron rusak.

Oligodendroglia (Gb-21)
        Oligodendroglia bentuknya lebih kecil daripada astrosit dengan cabang sitoplasmanya lebih pendek dan jumlah cabang sedikit (oligo= sedikit). Intinya kecil, dan sitoplasma disekitar inti sedikit, tampak sebagai pinggiran perinuklear. Mengandung ribosom, kompleks Golgi, mikrotubulus dan neurofilamen.
        Sel ini terutama ada di substansia grisea yang berhubungan erat dengan perikarion neuron (sel-sel satelit perineuronal) dan di substansia alba dalam jumlah yang sedikit yang terletak di antara berkas-berkas akson. Lainnya terletak dekat dengan pembuluh darah (perivaskular).
        Fungsi oligodendroglia adalah membentuk selubung mielin di SSP dan sebagai sel penyokong. Cabang sitoplasma yang serupa daun dari badan-badan sel meluas melingkar mengitari serat-serat saraf secara spiral. Tiap oligodendroglia mempunyai beberapa cabang sehingga dapat membentuk sarung-sarung myelin disekitar beberapa serat-serat saraf yang berdekatan.
   
Mikroglia
Sel ini berasal dari mesoderm. Sel mikroglia merupakan sel yang kecil, terdapat disubstansia alba dan grisea dekat dengan pembuluh darah. Tampak jelas dengan pulasan perak karbonat metoda Rio Hortega. Badan sel agak gepeng. Intinya sukar dilihat. Percabangan sitoplasma yang langsung dari badan sel cukup besar dan disebut cabang primer. Cabang primer ini kemudian bercabang-cabang lagi menjadi cabang sekunder dstnya. Yang agak istimewa adalah bahwa cabang-cabang tersebut posisinya kurang lebih tegak lurus terhadap cabang sebelumnya. Fungsinya fagositosis. Mikroglia akan memfagosit jaringan yang nekrotik sehingga daerah tersebut menjadi bersih.

Sel Ependim
Sel ependim merupakan sel yang melapisi rongga atau ruang yang terdapat pada otak yang disebut ventrikel dan kanalis sentralis pada medulla spinalis. Bentuk sel silindris rendah atau kuboid dengan cabang sitoplasma dan pada permukaan bebasnya terdapat silia dan mikrovili. Sel ependim yang melapisi pleksus koroideus membentuk lapisan khusus yang disebut epitel pleksus koroideus. 

Bookmark and Share
Read More..