EnsikloPenjas

Senin, 24 Maret 2014

Biomekanika Tolak Peluru



Tolak peluru merupakan salah satu nomor perlombaan atletik. Nomor ini diperlombakan untuk kategori pria dan wanita. Berat peluru untuk kategori wanita adalah 4 kilogram dan untuk kategori pria 7,26 kilogram. Peluru terbuat dari besi keras, kuningan atau logam lain dan tidak boleh lebih lunak dari kuningan, atau kulit metal yang keras diisi dengan timah atau materil lain. Dalam perlombaan tolak peluru, gerakan-gerakan atlit dalam usahanya untuk melaksanakan tolakan harus dilakukan di dalam sebuah lapangan yang dibatasi oleh sebuah lingkaran dengan garis tengah 2,135 m. Peluru harus jatuh di dalam sebuah sektor yang dibatasi oleh dua garis lurus yang ditarik dari pusat lingkaran ke ujung-ujung bususr pada lingkaran dengan besar sudut 40 derajat. TEKNIK TOLAK PELURU GAYA O’BRIEN 1. Teknik Awalan. 1.1 Berdiri Tegak membelakangi arah tolakan 1.2 Peluru dipegang dengan tangan kanan dan jari-jari terbuka. 1.3 Jari kelingking dan ibu jari menjaga agar peluru tidak menggeser ke samping. 1.4 Peluru diletakkan atau ditempelkan diantara bahu dan leher dibawah rahang dengan telapak tangan terbuka ke atas. 1.5 Siku bengkok dan lemas di samping badan. 1.6 Lutut kaki kanan dibengkokan, berat badan pada kaki kanan, tungkai kiri lurus ke belakang rileks 2. Gerak Meluncur 2.1 Lengan kiri dilipat di depan badan untuk membentuk keseimbangan. 2.2 Tarik tungkai kiri ke depan, lutut dilipat di bawah perut di samping tungkai depan (kanan) 2.3 Luruskan kembali tungkai kiri 2.4 Bersamaan dengan meluruskan tungkai kiri ke belakang, tolakan kaki kanan kuat dan pindahkan kaki kanan searah dengan gerakan tubuh sejauh-jauhnya sehingga kaki kiri menyentuh balok tolakan. 2.5 Gerakan melentur diakhiri dengan sikap lutut tungkai kiri lurus, lutut tungkai kanan bengkok, berat badan pada kaki kanan 3. Teknik Tolakan 3.1 Bersamaan dengan kaki kiri menyentuh balok, luruskan lutut tungkai kanan dan tolak atau dorong peluru dengan cepat dibantu dengan putaran pinggul, putaran lengan kiri, lenturan togok dan ekstensi pergelangan tangan kanan. 3.2 Sudut tolakan kira-kira 40 derajat dengan bidang horisontal. 3.3 Setelah menolak lengan kanan tetap lurus. 3.4 Berat badan ke depan, supaya tidak keluar lingkaran pindahkan kaki kanan ke depan. PEMBAHASAN Menurut pandangan Biomekanika, tolak peluru termasuk jenis keterampilan yang diklasifikasikan dalam : Melontarkan objek untuk mencapai jarak horisontal maksimal. Selain tolak peluru, termasuk dalam klasifikasi ini adalah , lempar cakram, lempar lembing, lontar martil dan lompat jauh. Melontarkan peluru berarti menggerakkan benda/objek, dan agar objek bergerak ke suatu jarak tertentu diperlukan tenaga (force). Tenaga (force) ini diperlukan untuk melawan gaya grafitasi yang bekerja pada setiap benda yang berada di bumi. Gaya gravitasi atau gaya tarik bumi ini bekerja menarik setiap benda kea rah pusat bumi. Untuk menggerakkan sebuah benda makin menjauhi pusat bumi maka makin besar juga tenaga yang harus dikerahkan. Lintasan peluru dalam tolak peluru dalam konsep biomekanika bisa disebut sebagai proyektil dalam olahraga. Atau bisa juga disebut sebagai gerak parabola. Berdasarkan keterangan di atas Faktor-faktor yang mempengaruhi jauhnya tolakan dalam tolak peluru : 1. Besarnya kecepatan awal peluru pada saat lepas dari tangan, 2. Besarnya sudut tolakan 3. Ketinggian peluru saat lepas dari tangan. Untuk memperjelas hal ini, berikut disajikan gambar faktor-faktor yang berhubungan dengan jarak horisontal benda yang menjalani gerak parabola. a. Jika peluru atau benda ditolak dengan kecepatan yang sama, tetapi pada saat lepas dari tangan dengan ketinggian yang berbeda (h1 dan h2), maka akan menghasilkan jarak horisontal yang berbeda (h2 >  x t = 10 x 0.71 x 0,95 = 6.75 m - Jadi jarak total tolakan adalah Xtotal = Xh + X = 5 + 6.75 = 11.75 m Jadi menolak pada ketinggian 2 meter akan menghasilkan jarak tolak yang lebih jauh dari pada menolak pada ketinggian 1.7 m terbukti. Pada gambar b. Jika peluru ditolak dari ketinggian yang sama, tetapi dengan kecepatan saat lepas dari tangan berbeda (V1a 2 (2 + 2.5) = 0.95 dt g 10 - Mencari jarak tolak (X) dari puncak parabola sampai tanah X = Vo Cos Ö 2 ( Y + Yh ) = Ö 102 X 0.5 100 x 0.5 50 Yh = = = = = 2.5 2g 2 x 10 20 20 - t = a 102 Sin 90 100 Xh = = = = 5 m 2g 2 x 10 20 - Mencari jarak vertical dari ketinggian tolak ( 2 m) sampai puncak parabola. Vo2 Sin2a x t = 10 x 0.71 x 0,92 = 6.53 m - Jadi jarak total tolakan adalah Xtotal = Xh + X = 5 + 6.53 = 11.53 m Pada ketinggian 2 m - Mencari jarak tolak (X) sampai puncak parabola dalam sumbu x V02 Sin 2a 2 (1.7 + 2.5) = 0.92 dt g 10 - Mencari jarak tolak (X) dari puncak parabola sampai tanah X = Vo Cos Ö 2 ( Y + Yh ) = Ö 102 X 0.5 100 x 0.5 50 Yh = = = = = 2.5 2g 2 x 10 20 20 - t = a 102 Sin 90 100 Xh = = = = 5 m 2g 2 x 10 20 - Mencari jarak vertical dari ketinggian tolak (1.70m) sampai puncak parabola. Vo2 Sin2a = 450 Dan percepatan grafitasi g= 10m/d2. Tolakan pertama ditolak pada ketinggian 1.70 m dan tolakan kedua pada ketinggian 2 m, maka jarak yang terjauh dari kedua tolakan adalah pada ketinggian? Pada ketinggian 1.70 m - Mencari jarak tolak (X) sampai puncak parabola dalam sumbu x V02 Sin 2ah1). Perbedaan ketinggian saat peluru lepas dari tangan terutama tergantung pada postur tubuh atau tinggi badan atlit dan teknik menolak. Untuk membuktikan hal tersebut berikut ini diberikan contoh soal; Dalam tolak peluru, diketahui kecepatan awal peluru saat lepas dari tangan (Vo)= 10m/d, sudut tolakan  < V2) maka lintasan parabola akan meyebabkan benda jatuh pada titik yang berbeda yaitu V2 >  102 Sin 80 100x0.98 Xh = = = = 4.9 m 2g 2 x 10 20 - Mencari jarak vertical dari ketinggiana x t = 10 x 0.71 x 1.23 = 8.73 m - Jadi jarak total tolakan adalah Xtotal = Xh + X = 11.25 + 8.73 = 19.98 m Pada gambar c. Jika peluru ditolak dari ketinggian yang sama dengan kecepatan awal sama, maka jarak horisontalnya ditentukan oleh sudut elevasinya, yaitu sudut yang dibentuk oleh arah tolakan dengan bidang horisontal. Sudut elevasi yang akan mengahsilkan jarak horizontal terjauh dari suatu benda yang bergerak menurut lintasan parabola tergantung pada letak bidang tempat mendaratnya. Ada tiga model tempat mendarat dalam gerak lintas parabola : 1. Tempat mendarat sama tinggi atau satu bidang horisontal dengan titik lepas benda. Sudut yang paling baik adalah 45 derajat dengan bidang horisontal. 2. Tempat mendarat lebih rendah dari titik lepas benda atau sama tinggi dengan bidang tempat melempar maka sudut yang paling baik adalah 40 derajat. 3. Tempat mendarat lebih rendah dari pada tempat tumpuan pelempar, maka sudut yang paling tepat adalah 30 derajat. Lihat gambar berikut : Analog dengan Contoh di atas dengan ketinggian tolak 2 m pada sudut tolakan 40 derajat. - Mencari jarak tolak (X) sampai puncak parabola dalam sumbu x V02 Sin 2a 2 (2 + 5.6) = 1.23 dt g 10 - Mencari jarak tolak (X) dari puncak parabola sampai tanah X = Vo Cos Ö 2 ( Y + Yh ) = Ö 152 X 0.5 225 x 0.5 112.5 Yh = = = = = 5.6 2g 2 x 10 20 20 - t = a 152 Sin 90 225 Xh = = = = 11.25 m 2g 2 x 10 20 - Mencari jarak vertical dari ketinggian tolak ( 2 m) sampai puncak parabola. Vo2 Sin2aV1. Benda yang ditolak dengan kecepatan awal lebih besar akan jatuh pada tempat yang lebih jauh. Eksplosif power yang dapat dikerahkan oleh pelempar akan menentukan besaran kecepatan awal peluru saat lepas dari tangan. Eksplosif power adalah hasil kali antara kekuatan dengan kecepatan gerak. Dari contah soal di atas jika tolakan pertama Vo = 10 m/dt dan tolakan kedua 15 m/dt pada ketinggian 2 m, maka yang lebih jauh adalah tolakan dengan kecepatan awal ….? Sekarang kita tinggal mencari jarak tolakan dengan kecepatan awal (Vo) 15 m/dt. - Mencari jarak tolak (X) sampai puncak parabola dalam sumbu x V02 Sin 2  x t = 10 x 0.77 x 0,89 = 6.85 m - Jadi jarak total tolakan adalah Xtotal = Xh + X = 4.9 + 6.85 = 11.75 m Ternyata dari perhitungan di atas bahwa menolak dengan sudut tolakan 40 derajat dengan menolak pada sudut elevasi 45 derajat dengan kecepatan awal yang sama mengahasilkan jarak tolakan yang sama. Dari literature lain sya mendapatkan bahwa sudut tolakan yang paling baik adalah kurang dari 45 derajat atau sekitar 42 derajat. ANALISIS GERAKAN TOLAK PELURU Untuk menganalisa gerakan tolak peluru dibutuhkan alat bantu video atau gambar cinematografi. Hal ini dikarenakan gerakan tolak peluru dilakukan dengan sangat singkat kurang lebih 2 detik dari persiapan sampai proses menolak. Dengan alat bantu gambar kita bisa menganalisa gerakan tolak peluru secara detail. Di bawah ini disajikan gambar grerakan tolak peluru dari fase persiapan sampai gerakan lanjutan (followstrought). Dari rangkaian gambar tolak peluru gaya O’Brien di atas, Fase persiapan terjadi pada frame 1 sampai dengan frame 12. Fase ini berlangsung lambat. Pada fase persiapan ini kecepatan bagian anggota badan tidak terlalu penting, sebab gerakan-gerakan hanya bertujuan untuk memantapkan kesetimbangan tubuh. Fase Gerakan dimulai dari frame 13 sampai frame 32. Sedangkan Fase Gerak lanjutan terjadi mulai frame 33 sampai 39. Kecepatan gerak tertinggi terjadi pada fase gerakan. Dari tinjauan Biomekanika, sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa peluru harus dilepaskan pada saat kecepatan maksimum, ketinggian maksimum dan juga pada sudut tolakan kurang dari 45 derajat. Ketiga hal ini mutlak penting untuk mencapai tujuan tolak peluru yaitu melontarkan objek untuk mencapai jarak horisontal maksimal. Gerakan Lutut dan Pinggul Lutut dan pinggul merupakan titik-titik kritis dalam tolak peluru. Lutut kanan dan sendi pinggul fleksi dalam posisi sudut optimum sehingga peregangan otot cukup untuk menghasilkan tenaga maksimum. Hal ini perlu diperhatikan pada fase akhir persiapan. Bila regangan otot tidak mencapai titik kritis maka pada saat akstensi lutut tidak akan terjadi kekuatan rotasi maksimum. Kemudian pada saat peluru lepas, lutut harus dalam keadaan ekstensi penuh. Jika ini tidak dilakukan maka ketinggian peluru saat lepas dari tangan tidak berada pada ketinggian maksimum yang akan dapat mengurangi jarak tolakan horisontal. Gerakan Pinggang dan Persendian Pinggul Pada fase persiapan, pinggang dan persendian pinggul berada di atas bidang tumpuan yang mantap, sehingga kesetimbangan dapat dipertahankan. Pada frame 7 sampai frame 12 pusat masa badan (center of gravity) letaknya lebih rendah oleh karena pengaruh fleksi lutut kanan sebagai kaki tumpuan. Otot ekstensor kaki tumpuan berada dalam keadaan diregang untuk kontraksi dengan kekuatan penuh pada saat dimulainya fase Gerak. Keadaan pinggul tetap dalam kesetimbangan gerak seperti terlihat pada frame 12 hingga frame 20. Tenaga terbesar dihasilkan pada saat dimulainya putaran pinggul. Pada saat putaran putaran pinggul harus terlihat adanya urutan perpindahan kedudukan pusat masa badan. Peluru lepas pada saat mencapai ketinggian maksimum seperti terlihat dalam frame 32. Kecepatan gerak peluru dalam menjalani lintasannya sangat menentukan hasil tolakan. Bidang tumpuan yang mendukung kesetimbangan gerak ke depan pada tolak peluru ditunjang oleh satu titik tumpu dan dua titik tumpu secara bergantian. Pada fase persiapan kesetimbangan tubuh ditumpu oleh satu kaki yaitu kaki kanan. Keadaan ini berlangsung sampai sampai permulaan fase gerakan. Pada fase gerakan kesetimbangan bertumpu pada dua titik (kaki) sehingga tingkat kesetimbangannya lebih stabil. Akibatnya rotasi pinggul dapat berjalan tanpa merusak kesetimbangan tubuh. Kepala dan Leher Kedudukan kepala dan leher atlit tolak peluru tetap dalam keadaan ekstensi dari awal sampai akhir gerakan. Gerak Lengan dan Gerak Tangan Pada saat terakhir dari fase gerak maju, gerak lengan kiri memberikan sumbangan terhadap mekanisme refleks fleksor–ekstensor dan memelihara kesetimbangan pada saat peluru lepas. Terjadi abduksi jari tangan dan fleksi pergelangan tangan pada saat peluru lepas. Otot Penggerak, Sumbu gerak dan Pengungkit (Tuas) a. Tahap Persiapan 1. Cara Memegang Tangan menggenggam peluru dan di tempelkan pada leher bagian samping Sendi: - Articulatio Intercarpea - Articulatio Carpometacarpea II – V - Articulatio Carpometacarpea I - Articulatio Metacarpo Phalangea Otot: - M. Bicep Brachii - M. Coracobrachiali - M. Supraspinatus Jenis Pengungkit Ke 3 2. Posisi Punggung Punggung membungkuk Sendi : • Articulatio lumbalo sacralis Otot : - M. Psoas Minor - M. Psoas Mayor 3. Posisi Tungkai Posisi lutut fleksi Sendi : - Articulatio Genue - Articulatio Coxae Otot : - M. Bicep Femoris b. Tahap Pelaksanaan 1. Gerakan kaki Kaki kiri diayunkan ke depan dan ke belakang Sendi : - Articulatio Coxae - Articulatio Genue Otot : - M. Gluteus Maximus - M. Iliacus Sumbu : Frontal Bidang : Sagital Gerakan : Abduksi Jenis Pengungkit ke 1 2. Gerakan Melangkahkan Kaki Kedua Kaki di langkahkan atau digeser ke belakang Sendi : - Articulatio Talotartalis - Articulatio talocal Caneonavicularis Otot : - M. Extensor digitorum longus - M. Gastroknemeus Sumbu : Sagital Bidang : Frontal Jenis Pengungkit ke 2 3. Menolak Peluru Posisi pinggang diputar kemudian peluru dilepas Sendi : - Articulatio Intervertebralis - Articulatio Humeri Otot : - M. deltoideus: - M. Obliquus Eksternus abdominis - M Pectoralis mayor c. Tahap Gerakan Lanjutan Setelah Peluru dilepas kaki kanan dilangkahkan kedepan Sendi : - Articulatio Coxae - Articulatio Genue Otot : - M. Quadricep Femoris - M. Rectus femoris Sumbu : Lateral Bidang : sagital Gerakan : Abduksi Pengungkit 1 Hukum-Hukum Newton yang Bekerja Pada Tolak Peluru Gaya O’Brien Hukum Newton I (Hukum Kelembaman) Bunyi Hukum Newton I : “Setiap benda akan tetap berada dalam kedaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya luar yang mempengaruhinya.” Terjadi pada fase persiapan dan fase gerak lanjutan Hukum Newton II (Hukum Momentum/Percepatan) “Perubahan kecepatan gerak sebanding dengan besarnya tenaga yang bekerja pada benda tersebut, arahnya searah dengan arah tenaga yang bekerja”. Hukum percepatan ini terjadi pada saat fase gerakan. Semakin besar percepatan semakin pula jarak tolakan. Hukum newton III (Hukum Aksi Reaksi) “Setiap aksi selalu akan menimbulkan reaksi yang samabesar dengan arah yang berlawanan” Terjadi pada saat tungkai menjejak tanah untuk gerakan ekstensi agar dapat menolak peluru sejauh-jauhnya. Semakin besar tenaga yang digunakan untuk ekstensi lutut semakin besar pula tenaga yang dihasilkan untuk menolak peluru. Momen Inersia Momen Inersia merujuk pada sebuah kecenderungan untuk mempertahankan posisinya. Benda dalam keadaan diam cenderung susah untuk bergerak tetapi jika sudah bergerak maka susah untuk menghentikannya. Momen inertia ini terjadi pada fase persiapan dan fase gerak lanjutan. C. PENUTUP Demikanlah analisis biomekanika cabang olahraga Atletik nomor Tolak Peluru gaya O’Brien. Hal paling mendasar yang menentukan jauhnya tolakan adalah ketinggian peluru saat lepas dari tangan, kecepatan peluru saat lepas dari tangan dan sudut elevasi tolakan peluru. ANALISIS BIOMEKANIKA GERAKAN : TOLAK PELURU GAYA O’BRIEN CABANG OLAHRAGA: ATLETIK No. Komponen Biomekanika Ada Moment Kejadian Anggota Tubuh/Letak Analisis Keterangan Ya Tdk A. . FORCES 1 Forces/gaya yang di gunakan √ Pada saat fase gerakan Kedua tungkai kaki, putaran pinggul, lengan dan tangan Proses pada fase gerakan , khususnya pada saat memutar pinggul menghasilkan tenaga yang paling besaruntuk menolak peluru. Vector/arah gaya √ gerakan menolak peluru lengan dan tangan kanan Arah gaya yang terjadi pada setelah peluru ditolak adalah : membentuk sudut antar arah horisontal dan arah vertikal (gerak para bola) . No. Komponen Biomekanika Ada Moment Kejadian Anggota Tubuh/Letak Analisis Keterangan Ya Tdk B. LINEAR KINEMATICS 1. LinearMotion/gerak lurus v Pada saat fase gerakan terutama saa 2 (2 + 2 ) = 0.89 dt g 10 - Mencari jarak tolak (X) dari puncak parabola sampai tanah X = Vo Cos Ö 2 ( Y + Yh ) = Ö 102 X 0.4 100 x 0.5 40 Yh = = = = = 2 2g 2 x 10 20 20 - t = atolak ( 2 m) sampai puncak parabola. Vo2 Sin2at Melakukan gerakan bergeser mundur Tungkai kaki kanan Gerakan mundur ke belakang untuk awalan adalah gerak lurus dan juga pada saat gerakan lanjutan. Tangan, lengan, tungkai Gerakan memutar pinggul dan pinggang akan mengahasilkan kecepatan dan tenaga yang besar Secara keseluruhan anggota badan dari mulai anggota badan bawah sampai anggota badan atas. jika fase gerakan mundur dilakukan dengan cepat maka akan terjadi juga percepatan pada saat memutar pinggul Dari dorongan tangan dan bahu akan memberikan percepatan terhadap laju peluru. Analisis Pada fase persiapan dapat bergerak dari posisi diam karena pengaruh maju mundurnya kaki. Dan pada fase gerak lanjut gerakan dapat menghentikan gerakan dengan cara memindahkan kaki kanan ke depan. jika mulai fase persiapan sampai fase gerakan terjadi percepatan maka pada saat peluru lepas dari tangan juga terjadi percepatan. Semakin kuat tungkai menjejak tanah untuk gerakan ekstensi makin besar pula tenaga yang diperoleh untuk mendorong peluru ke atas. Untuk memudahkan gerak kaki di ayun ke depan dan belakang. Untuk menghentikan gerak . kaki kanan melangkah ke depan. Tuas Jenis I Gerakan abduksi pada saat langkah kaki Gerakan mengayunkan kaki ke depan dan belakang. Tuas Jenis II Kedua kaki geser ke belakang. Tuas Jenis III Tangan menggenggam peluru dan diletakan samping leher.

Bookmark and Share
Read More..

Senin, 09 Desember 2013

Biomekanika - Glosarium

Kekuatan Otot Absolut : besarnya kekuatan otot berbanding lurus dengan penampang fisiologis dari otot tersebut artinya makin besar penampang fisiologisnya makin besar pula kekuatannya.

Kinematik : kajian biomekanika yang berhubungan dengan karakteristik gerak dan menguji gerakan dari sebuah ruang terbatas tanpa ada gaya yang menyebabkan gerak.


Kinetic link : aktivitas olahraga yang masing-masing segemn memberi kontribusi dalam gerakan.


Kinetika : pelajaran yang membahas tentang suatu aksi dalam suatu sistem, sebagaimana tubuh manusia atau objek lain. 


Koefisien Elastisitas : bila dua benda berbenturan satu sama lain pada satu garis lurus, maka perbedaan kecepatan setelah berbenturan berbanding lurus dengan perbedaan kecepatan sebelumnya.


Kontrakbilitas : kemampuan otot untuk menguncup/mengerut yang diikuti dengan perubahan bentuk (menjadi pendek dan gemuk).


Kontraksi auxotonis : kombinasi dari kontraksi, isometris dan isotonis. Saat mulai terjadi tegangan dari kecil sampai sebesar tahanan/beban, yang terjadi adalah kontraksi isometris. Kemudian saat tegangan melebihi tahanan/beban, terjadilah kontraksi isotonis.


Kontraksi Isometris : panjang otot tetap dan tegangannya yang optimal juga tetap, kontraksi isometris disebut juga kontraksi statis.


Kontraksi Isotonis : tegangan tetap, sedang panjangnya berubah. Kontraksi isotonis disebut juga kontraksi dinamis.


Kontraksi otot : suatu proses pengubahan dari energi kimia menjadi mekanis dan panas.
Labil : suatu benda atau seseorang itu dalam kesetimbangan labil, kalau benda atau orang tersebut mendapat pengaruh dari luar (pengaruh yang relatif kecil), kesetimbangannya akan hilang/jatuh.


Laminar flow : bila sebuah bola (ukuran kecil) dilempar dengan kecepatan yang tidak begitu tinggi, maka udara yang menerpanya akan mengalir dengan mulus pada sisi-sisi permukaannya.


Latihan dinamis negatif : latihan kekuatan yang mengikuti, memperlambat gerak dimana otot saat melawan beban terjadi kontraksi eksentris.


Latihan dinamis positif : latihan kekuatan yang mengimbuhi, konsentris, memendek, mempercepat gerak.


Manuver : bahwa momen beban sebelah kiri harus selalu diimbangi oleh momen beban sebelah kanan, bahwa setiap saat titik berat tubuh selalu berada di tengah atau pada garis tegak. (V).


Momentum : besarnya gaya dorong dari suatu benda.


Momen (puntiran, torque) : bila sebuah benda dikerahkan suatu gaya yang berputar pada porosnya, maka pada benda tersebut terjadi suatu puntiran yang besarnya = gaya x lengan dari gaya, lengan dari gaya ialah jarak terdekat dari gaya ke porosnya.


Momen Inertia : suatu besaran yang ditentukan oleh massa dari benda, posisi dari massa terhadap poros-porosnya


Postural tonus : Otot yang menjaga posisinya agar tetap dalam keadaan setimbang.


Profile drag atau pressure drag : arus udara yang menerpa permukaan depan dari bola.


Pronasi : gerak yang sama dengan endorotasi atau rotasi medial.


Proyeksi titik berat : berupa titik yang ditarik dari titik beratnya tegak lurus ke bidang tumpuan.


Rangkaian kinematis terbuka : salah satu ujung pada segmen dapat bergerak bebas.


Rangkaian kinematis tertutup : rangkaian segmen yang tidak ada ujungnya yang bebas.


Resonansi : perpanjangan dan intensifikasi dari vibrasi.


Restitusi : karena ada gaya dari dalam, benda tersebut berusaha kembali kebentuk yang semula atau bentuk asli.


Rotasi : gerakan memutar pada sumbu longitudinal (memanjang). Ekso-rotasi : berputar keluar, Endo-rotasi : berputar kedalam.


Sendi bujur telur : gerakan yang ditimbulkan dapat ke depan-belakang dan ke samping kiri-kanan, poros gerakannya ada dua.


Sendi engsel : hanya dapat bergerak pada satu bidang, atau bergerak pada satu sumbu saja dapat disebut uni-axial.


Sendi geser : memungkinkan terjadinya perputaran.


Sendi pelana : dapat berputar pada dua sumbu disebut juga biaxial.


Sendi peluru : dapat bergerak pada 3 sumbu yakni sagital, frontal dan transversal.


Sendi putar : memungkinkan perputaran dari satu tulang pada tulang lainnya.


Sendi skrup : mempunyai satu bidang gerak, seperti sendi engsel tetapi ada sedikit perbedaan yakni sumbu gerak letaknya agak serong.


Sikap anatomis : semua gerakan anggota tubuh yang berdasarkan pada bidang dan sumbu gerakannya.


Sikap diagonal : kesiap – siagaan untuk bergerak lebih banyak ke depan-belakang.


Sikap paralel : kesiap – siagaan untuk bergerak lebih banyak kesamping (kiri-kanan).


Sirkumduksi : gerakan bagian tubuh yang melukiskan sebuah kerucut. Kombinasi dari fleksi, abduksi, ekstensi, adduksi dan rotasi.


Skalar : kuantitas yang mempunyai besaran (magnitude), waktu (time) besarannya adalah detik, menit atau jam sedangkan panas besarannya adalah derajat.


Stabil : suatu benda atau seseorang itu dalam kesetimbangan stabil, kalau benda atau orang tersebut mendapat pengaruh dari luar (pengaruh yang relatif kecil) kesetimbangannya tidak berubah atau kembali dalam kesetimbangan yang semula.


Stamina : daya tahan yang lebih tinggi tingkatannya.


Supinasi : gerak yang sama dengan eksorotasi atau rotasi lateral.


Surface drag : arus udara yang terjadi karena gesekan.


Synarthrose : sambungan tulang-tulang secara langsung, saling berkaitan dengan suatu lapisan antara.


Tekanan dinamis : udara yang menerpa bola merupakan tahanan/tekanan yang arahnya dari kiri ke kanan.


Tenaga/energi : kemampuan untuk mengatasi tahanan/beban untuk bergerak, melakukan kerja, atau menghasilkan usaha fisik.


Tenaga kerja kinetik (tenaga kerja gerak) : tenaga oleh karena kecepatannya.


Tenaga kerja potensial (tenaga kerja tempat) : tenaga yang dimiliki tubuh oleh karena tempatnya.


Titik berat : titik dimana gaya berat benda atau anggota tubuh itu bekerja.


Tuas/lever : suatu mekanisme penggerak pada sebuah benda, berupa dua buah momen (torque) yang bekerjanya berlawanan terhadap porosnya.


Ventral : sisi depan atau muka (anterior).


Vektor : kuantitas yang mempunyai besaran dan arah, misalnya gaya besarannya adalah Newton, kilogram atau gram dan gaya tersebut mempunyai arah tertentu.



Vibrasi : peristiwa memantulkan berulang-ulang kali (bola).

Bookmark and Share
Read More..

Analisis Tendangan Pisang (SWING SHOOT)

Analisis Secara Biomekanika
Tendangan pisang atau swing shoot adalah tendangan jarak jauh yang keras dan menghasilkan arah bola yang melengkung. Bola dengan arah tendangan melengkung ini sangat sulit untuk ditangkap oleh penjaga gawang. Hal tersebut terjadi pada pertandingan dunia Brazil melawan Prancis. Pada kejuaraan Piala Dunia 1998 pemain Roberto Carlos terkenal karena kemampuannya melakukan tendangan pisang. Bola yang diletakkan sekitar 30 meter agak di sebelah kanan gawang lawan ditendang dengan kaki kiri sedikit dari arah luar kaki. Dengan arah seperti itu bola dapat melewati para pemain bertahan lawan yang menghalang beberapa meter di depan gawang. Yang membuat decak kagum penonton, namun mengagetkan penjaga gawang adalah arah bola yang ditendang tersebut ternyata membelok ke arah kiri, mendekati gawang, dan akhirnya masuk ke pojok atas kanan gawang lawan. Jadi bagaimana melakukan tendangan pisang untuk menghasilkan lintasan bola yang melengkung? Berikut merupakan analisis tendangan pisang berdasarkan prinsip-prinsip biomekanika;
ü Titik Berat
Pelaksanaan tendangan dalam sepak bola merupakan salah satu gerakan yang cukup kompleks dalam olahraga. Dalam teorinya letak titik berat selalu berubah sesuai dengan sikap, dan sangat menentukan terhadap teknik gerak. Titik berat adalah titik dimana gaya berat. Dapat juga dikatakan bahwa titik berat adalah titik yang mewakili berat dari benda atau tubuh (Soedarminto, 1992: 149-151).
Gerakan menendang dengan punggung dalam sepak bola pada umumnya dilakukan dengan tujuan untuk menendang lurus dan datar. Biasanya dilakukan pada tendangan bebas atau tendangan dengan jarak yang sedikit lebih jauh. Tendangan ini sangat bermanfaat sekali sebab, meluncurnya bola cukup keras dan lurus serta mendatar. Analisa gerakannya didasarkan pada tiga tahap yaitu; (1) persiapan/ancang-ancang, (2) tendangan, dan (3) follow-trough.
Pada gambar diatas titik berat berpengaruh terhadap keseimbangan pemain ketika melakukan gerak menendang. Semakin titik berat dekat dengan lantai maka pemain akan semakin seimbang dalam melakukan gerak menendang. Tendangan yang akan dihasilkan ke arah horisontal pun akan semakin jauh jarak yang dihasilkan apabila disertai kecepatan awal yang tinggi pula.
ü Keseimbangan
Salah satu keterampilan yang sangat penting dalam olahraga adalah kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan dalam berbagai macam posisi karena akan menentukan hasil akhir setiap gerak yang dilakukan (Putut, 1998: 46). Menurut Soedarminto (1992: 152-153) stabilitas yang dimaksud di sini adalah tingkat keseimbangan. Semua objek yang diam dikatakan dalam keadaan seimbang. Semua gaya yang bekerja padanya seimbang, jumlah gaya-gaya linear yang bekerja sama dengan nol dan jumlah semua momen sama dengan nol. Tetapi, tidak semua objek yang diam memiliki stabilitas yang sama. Jika posisi sebuah objek diubah sedikit dan objek itu cenderung untuk kembali pada posisi semula, maka objek itu dalam keadaan seimbang stabil atau seimbang mantap.
Pada pelaksanaan tendangan dalam sepak bola, keseimbangan akan stabil apabila kaki yang menjadi tumpuan dan kaki yang akan menendang diikuti dengan pergerakan lengan yang saling berlawanan pula (apabila digambarakan maka posisi tubuh akan membentuk huruf C). Dalam gerakan ini kaki tumpuan akan berdiri sendiri sehingga apabila tidak mendapatkan bantuan dari ayunan lengan akan sulit untuk menyeimbangkan badan dan akibatnya impact yang dihasilkan kaki tidak tepat pada target sasaran.
Jadi dalam pelaksanaan tendangan dalam sepak bola hukum kesetimbangan yang berlaku adalah Hukum Kesetimbangan IV yang berbunyi “Stabilitas berbanding lurus dengan jarak horizontal dari titik berat terhadap sisi bidang tumpuan ke arah mana benda bergerak”.
ü Gaya
Setiap ada perubahan keadaan dari diam ke gerak atau dari gerak ke diam pasti ada sebab atau pengaruh. Oleh karenanya dapat dikatakan pengaruh atau sebab adalah sesuatu yang mengubah keadaan. Pengaruh itu tidak lain adalah gaya (Soedarminto, 1992: 77). Gaya adalah besaran yang mempunyai arah maka tergolong dalam besaran vektor (Putut, 1998: 26). Melakukan gerak serang dalam anggar atau semua aktiviatas sehari-hari mutlak memerlukan gaya dari dalam tubuh yang berupa gaya kontraksi otot atau kekuatan (strength).
Hukum I Newton berbunyi ”Bila resultan gaya yang bekerja pada benda nol atau tidak ada gaya yang bekerja pada benda, benda itu diam (tidak bergerak) atau akan bergerak lurus beraturan”. Resultan gaya adalah jumlah gaya yang bekerja pada benda (Putut, 1998: 26). Gaya resistance juga terjadi ketika langkah akan melakukan gerak menendang.
ü Gerak Proyektil atau Lengkung (Parabola)
Tendangan bebas dalam sepak bola akan menghasilkan suatu gerak Proyektil atau Lengkung (Parabola). Gerak Proyektil atau Lengkung (Parabola) yaitu sebuah gerak yang lintasannya membentuk sudut seperti parabola (Imam Hidayat, 2003 : 80). Gerak parabola ini disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bumi. Tanpa adanya gravitasi bumi, bola akan bergerak lurus ke atas. Gaya gravitasi memberikan gaya ke arah bawah sehingga kecepatan vertikalnya semakin berkurang. Ketika mencapai ketinggian maksimum, kecepatan vertikalnya nol. Bentuk lintasan parabola tergantung sudut elevasi dan kecepatan yang diberikan. Jadi, seorang penendang bebas yang ingin menghasilkan tendangan dengan jarak terjauh, ia harus menendang bola dengan kakinya sehingga bola tersebut mendapat kecepatan awal dengan sudut 450. Namun perlu diperhatikan bahwa jarak tendangan terjauh bukan berarti tendangan yang paling kuat.
ü Hukum Bernoulli
Pada abad ke-18, Daniel Bernoulli menemukan bahwa tekanan pada daerah dengan kecepatan fluida yang rendah akan lebih besar dibandingkan dengan tekanan pada daerah dengan kecepatan fluida yang lebih tinggi. Secara matematik, hukum ini dirumuskan p + ½ ρv2 + ρgh = C ; dengan C sebagai konstanta. Kebanyakan tendangan bebas mengikuti hukum Bernoulli ini. Bola akan membelok seperti pisang karena salah satu sisi bola memiliki tekanan yang lebih rendah dibanding sisi lainnya. Tendangan ‘pisang’ ini mengakibatkan lintasan bola tidak sepenuhnya parabola yang simetris.
ü Efek Magnus
Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan keadaan (dari diam ke gerak, dari gerak ke diam, perubahan panas atau perubahan kecepatan). Perubahan arah bola saat ditendang juga merupakan hasil dari manipulasi gaya yang mengakibatkan efek magnus. Gaya magnus merupakan akibat dari tekanan statis di lapisan atas menjadi positif sedang dilapisan bawah negatif. Terjadilah gaya dari tekanan yang positif ke negatif atau dari atas ke bawah.

Pada saat bola ditendang dan melayang di udara dengan spin/putaran bola, maka selama melawan aliran udara di bagian atas bola lebih rendah dari pada di bagian bawahnya sehingga tekanan di bagian atas lebih tinggi daripada di bawah bola. Hal ini menyebabkan bola akan melengkung ke bawah. Jadi, bola seolah-olah keluar ke atas namun kemudian ternyata menukik tajam. Lintasan bola berbentuk parabola tetapi setelah mencapai tinggi maksimum lintasan bola menjadi membelok tajam.

ü Kinetic Link
Dalam melakukan analisis biomekanik, tubuh manusia dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari link (penghubung) dan joint (sambungan). Tiap link mewakili segmen tubuh tertentu dan tiap joint menggambarkan sendi yang ada. Menurut Chaffin & Anderson (1984), tubuh manusia terdiri dari link, yaitu :
1. Link lengan bawah yang dibatasi joint telapak tangan dan siku
2. Link lengan atas yang dibatasi joint siku dan bahu
3. Link punggung yang dibatasi joint bahu dan pinggul
4. Link paha yang dibatasi joint pinggul dan lutut
5. Link betis yang dibatasi joint lutut dan mata kaki
6. Link kaki yang dibatasi joint mata kaki dan telapak kaki
Sesuai dengan apa yang diungkapkan Chaffin & Anderson (1994) tendangan dalam sepak bola juga dihasilkan dari beberapa Link System.
a.    Link lengan bawah : terjadi saat telapak tangan mengepal dan siku membentuk sudut sebagai dari usaha menyeimbangkan posisi tubuh saat mengawali tendangan dengan berlari.
b.    Link lengan atas : siku dan bahu merupakan suatu kesatuan dari gerakan tubuh saat beralari dengan tujuan untuk mendatkan keseimbangan yang stabil.
c.    Link punggung. : terjadi pada saat lengan dan tungkai digerakan secara bersamaa.
d.   Link paha : terjadi pada saat menendang dan berlari serta berperan sebagai pemberi impuls yang kuat untuk hasil tendangan.
e.    Link betis : setelah otot-otot paha digerakan maka akan diteruskan melalui otot betis yang berperan sebagi penghubung antara kekuatan otot paha dan pergelangan kaki.
f.     Link kaki : merupakan hasil kerja akhir dari semua system link dari tendangan, perkenaan pada bola akan menghasilkan impact dan gaya pada hasil tendangan bola.

Referensi :
Jurnal FISIKA TENDANGAN PISANG PADA SEPAK BOLA, Triyanta PhD (Fisika ITB)

Jurnal ANALISIS LINTASAN BOLA TENDANGAN BEBAS
Imran Rusyana, Yuda Farid, Ahmad Ridwan


Tendangan pisang Beckham menurut Fisika Oleh Pristiadi Utomo





Bookmark and Share
Read More..