EnsikloPenjas

Rabu, 15 Mei 2013

Makalah Pengelolaan Kelas


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan bentuk kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.
Oleh karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan, setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di dalam organisasi sekolah.
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsure-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik. Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode  mengajar yang tepat sehingga mampu mengelola kelas dengan baik agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar.
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. (Djamarah 2006:179)
Pengelolaan Kelas adalah berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru agar mampu mengelola kelas dengan baik supaya tujuan pembelajran kita tercapai serta dapat mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Sedangkan untuk pengajaran adalah segala jenis kegiatan yang dengan sengaja kita lakukan dan secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan- tujuan khusus pengajaran.

1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.        Apa pengertian pengelolaan kelas?
2.        Apa saja komonen – komponen yang harus dipenuhi agar guru dapat mengelola kelas?
3.        Apa saja prinsip dalam pengelolaan kelas?
4.        Bagaimana bentuk pendekatan dalam pengelolaan kelas?
5.        Bagaimana penerapan sistem dalam pengelolaan kelas?
6.        Apa peran guru dalam pengelolaan kelas?
7.        Apa saja masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas?
8.        Bagaimana indikator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur kesuksesan guru dalam mengelola kelas?
9.        Hal apa saja yang harus dihindari dalam pengelolaan kelas?
10.    Apa pengaruh pengelolaan kelas terhadap kualitas belajar?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.        Untuk mengetahui definisi pengelolaan pelas
2.        Mengetahui komponen – komponen yang harus dipenuhi agar guru dapat mengelola kelas
3.        Mengetahui prinsip dalam pengelolaan kelas
4.        Mengetahui bentuk pendekatan dalam pengelolaan kelas
5.        Mengetahui cara menerapan sistem dalam pengelolaan kelas
6.        Mengetahui peran guru dalam pengelolaan kelas
7.        Mengetahui masalah yang timbul dalam pengelolaan kelas
8.        Mengetahui indikator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur kesuksesan guru dalam mengelola kelas
9.        Mengetahui masalah yang harus dihindari dalam pengelolaan kelas
10.    Mengetahui pengaruh pengelolaan kelas terhadap kualitas belajar



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Pengelolaan Kelas
Ada lima definisi tentang pengelolaan kelas. Definisi pertama, memandang bahwa pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat otoritatif. Dalam kaitan ini tugas guru ialah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin amat diutamakan. Menurut pandangan ini istilah pengelolaan kelas dan disiplin kelas dipakai sebagai sinonim. Secara lebih khusus, definisi pertama ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
Definisi kedua bertolak belakang dengan definisi pertama diatas, yaitu yang didasarkan atas pandangan yang bersifat permisif. Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah. Dengan demikian, definisi kedua dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa. Meskipun kedua pandangan diatas, pandangan otortatif dan permisif, mempunyai sejumlah pengikut, namun keduanya dianggap kurang efektif bahkan kurang bertanggungjawab. Pandangan otoritatif adalah kurang manusiawi sedangkan pandangan permisif kurang realistik.
Definisi ketiga didasarkan pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Peranan guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement). Definisi yang didasarkan pada pandangan ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
Definisi keempat, memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru ialah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dalam kaitan ini definisi keempat dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.
Definisi kelima, bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. Definisi kelima dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.
Ketiga definisi yang terakhir tersebut diatas masing-masing bertitik tolak dari dasar pandangan yang berbeda. Manakah yang terbaik diantara ketiga definisi itu? Dari ketiga pandangan itu tidak satupun pernah dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik. Oleh karena itu adalah bermanfaat apabila guru mampu membentuk suatu pandangan yang bersifat pluralistic, yaitu pandangan yang merangkum tiga dasar pandangan itu (pandangan tentang pengubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok).
Definisi yang pluralistic itu dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.
Pengelolaan Kelas adalah berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru agar mampu mengelola kelas dengan baik supaya tujuan pembelajran kita tercapai serta dapat mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Sedangkan untuk pengajaran adalah segala jenis kegiatan yang dengan sengaja kita lakukan dan secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan- tujuan khusus pengajaran.
Guru-guru perlu memahami dan memegang salah satu definisi tersebut diatas yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku dan kegiatan guru didalam kelas dalam rangka mengelola kelasnya. Definisi yang lebih tepat bagi guru-guru kiranya adalah definisi yang bersifat pluralistic.

2.2 Komponen – Komponen Ketrampilan Dalam Pengelolaan Kelas
Komponen-komponen keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam mengelola kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu ketrampilan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal ( bersifat preventif ) dan keteampilan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
2.2.1 Keterampilan Penciptaan dan Pemeliharaan Kondisi Belajar
a. Sikap Tanggap
Sikap ini dapat dilakukan dengan cara :
1.    Memandang Secara Seksama
Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerjasama,dan menunjukkan  rasa persahabatan.
2.    Gerak Mendekati
Gerak guru adalah posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat, dan perhatian guru yang duberikan terhadap tugas serta aktivitas anank didik. Gerak mnedekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan hukuman.
3.    Memberi Pertanyaan
Pertanyan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa  tanggapan, komentar, ataupun yang lain.
4.    Memberi Reaksi terhadap Gangguan dan Kekacauhan
Teguran perlu diberikan oleh guru jika suasana kelas tidak tenang. Teguran guru memberikan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tapat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan  tingkah laku.
b. Membagi Perhatian
1.      Visual
guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik ke kegiatan kedu, tanpa kehilangan pehatian pada kegiatan yang pertama. Kontak pandangan ini bias dilakukan terhadap kelompok anak didk atau anak didik secara individual.
2.      Verbal
guru dapat memberikan komentar, penjelasan, pertanyaan, dan sebagainya terhadap aktifitas anak didik  pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervise pada aktivitas anak didik yang lain.
c.       Pemusatan Perhatian Kelompok
1.      Memberi Tanda
Dalam memulai proses belajar mengajar  guru  memusatkan pada peerhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan  memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan, atau topic, dengan memilih anak secara random untuk meresponsnya.
2.      Pertanggungan Jawab
Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan  keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggungjawab terhadap kegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalnya dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.
3.      Pengarahan dan Petunjuk yang Jelas
Guru harus seringkali memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terajadi  kebingungan  pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.
4.      Penghentian
Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau di hindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktif dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.
Teguran yang dilakukan guru adalah salah satu cra untuk untuk menghentikan gangguan anak didik. Teguran verbal yang efektif adalah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Ø  tegas dan jelas tertuju kepda anak didik yang mengganggu  serta kepada tingkah lakunya yang menyimpang.
Ø  Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau mengandung penghinaan.
Ø  Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
5.    Penguatan
Untuk menanggulangi anak didik yang menggangu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan memberikan penguatan yang di pilih ssuai dengan masalahnya. Penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau tidak melakukan tugas.seperti :
a)    dengan memberikan penguatan positif bila anak didik telah menghentikan gangguan atau kembali pad atugas yang di minta.
b)   Dengan memberikan penguatan positf terhadap anak didik yang lain yang tidak mengganggu dan di pakai sebagai model tingkah laku yang baik bagi anak didik yang suka mengganggu.
6.    Kelancaran
Kelancaran atau  kemajuan anak didk dalam belajarsebagai indicator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Ada beberapa kesalahan yang harus dihindari oleh guru.
a)        campur tangan yang berlebihan ( teacher instruction )
b)        kelenyapan (fade away )
c)        penyimpangan ( degression )
d)       ketidak tepatan berhenti dan memulai kegiatan
e)        Kecepatan ( pacing )
Kecepatan disini diartikan  sebagai tingkat kemajuan yang d capai anak didik dalam pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan kecepatan yang tidak perlu, atau menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau  kemajuan tugas. Ada dua hal kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan. Yaitu :
a)        Bertele-tela (mengulang, memperpanjang, mengubah-ubah )
b)        Mengulang penjelasan yang tidak perlu
2.2.2 Keterampilan Pengembangan Kondisi Belajar
a.         Modifikasi Tingkah Laku
Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami  masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengiplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.
b.        Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok
Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
-            memperlancar tugas-tugas : mengusahakan terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas
-            memelihara kegiatan-kegiatan kelompok : memelihara dan memulihkan semangat anak  didik dan menangani konflik yang timbul.
c.         Menemukan dan Memecahkan Tingkah Laku yang Menimbulkan Masalah
Guru dapat menggunakan seperangkat arah untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul, dan ia mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatuhan tingkah laku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.
2.3 Prinsip-Prinsip dalam Pengelolaan Kelas
Secara umum faktor yang mempengaruhi manajemen kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa. Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Kepribadian siswa denga ciri-ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya sacara individual. Perbedaan sacara individual ini dilihat dari segi aspek yaitu perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik begitu sebaliknya.
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan yaitu:
1.      Hangat dan antusias, kehangatan dan keantusiasan guru dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang menyenangkan yang merupakan salah satu syarat bagi kegiatan belajar-mengajar yang optimal. Guru yang bersifat hangat dan akrab secara ajek menunjukkan antusiasmenya terhadap tugas-tugas, terhadap kegiatan-kegiatan, atau terhadap siswanya akan aktivitasnya maka berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
2.      Tantangan, penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3.      Bervariasi, penggunaan variasi dalam media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik merupakan kunci pengelolaan kelas untuk menghindari kejenuhan serta pengulangan-pengulangan aktivitas yang menyebabkan menurunnya kegiatan belajar dan tingkah laku positif siswa. Jika terdapat berbagai variasi maka proses menjadi jenuh akan berkurang dan siswa akan cenderung meningkatkan keterlibatannya dalam tugas dan tidak akan mengganggu kawannya.
4.      Keluesan, dalam proses belajar mengajar guru harus waspada mengamati jalannya proses kegiatan tersebut. Termasuk kemungkinan munculnya gangguan siswa seperti keributan siswa, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya. Sehingga diperlukan keluwesan tingkah laku guru untuk dapat merubah berbagai strategi mengajar dengan memanipulasi berbagai komponen keterampilan yang lain.
5.      Penekanan pada hal-hal yang positif,  pada dasarnya, dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Cara guru memelihara suasana yang positif antara lain :
a.         memberikan aksentuasi terhadap tingkah laku siswa yang positif dan menghindari ocehan atau celaan atau tingkah laku yang kurang wajar.
b.        memberikan penguatan terhadap tingkah laku siswa yang positif.
6.    Penanaman disiplin diri,  tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.

.2.4 Bentuk Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas
Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama di antara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas.
Berbagai pendekatan tersebut seperti berikut:
1.  Pendekatan kekuasaan (autority approach), pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik dengan penerapan disiplin. Peranan guru di sini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada anak didik untuk mentaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas.
2.  Pendekatan ancaman, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik yang dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3.  Pendekatan kebebasan (permisive approach), pengelolaan kelas diartikan upaya yang dilakukan oleh guru dengan memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik. Pendekatan ini sama dengan pendekatan kekuasaan dan ancaman dianggap kurang efektif karena pendekatan ini bagi guru bersikap reaktif. Hanya terbatas pada masalah-masalah yang muncul secara insidental saat itu, kurang mengarah pada pemecahan masalah yang bersifat jangka panjang (yang akan datang), bersikap absolut (mutlak) dan tidak membuka peluang bagi pengambilan tindakan-tindakan yang lebih luwes dan kreatif.
4.  Pendekatan perubahan tingkah laku (behavior modifikation approach), pengelolaan kelas diartikan upaya untuk mengembangkan dan memfasilitasi perubahan perilaku yang bersifat positif dari siswa dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki perilaku negatif siswa.
Program atau kegiatan yang yang mengakibatkan timbulnya tingkah laku yang kurang baik, harus diusahakan menghindarinya sebagai penguatan negatif yang pada suatu saat akan hilang dari tingkah laku siswa atau guru yang menjadi anggota kelasnya. Untuk itu, menurut pendekatan tingkah laku yang baik atau positif harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan senang atau puas.
Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan program kelas diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari.
5. Pendekatan sosio-emosional (sosio emosional  climate approach), pengelolaan kelas diartikan upaya untuk menciptakan suasana hubungan interpersonal yang baik dan sehat antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
Guru menduduki posisi terpenting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Oleh karena itu, pendekatan ini berkeyakinan bahwa suasana atau iklim kelas yang baik berpengaruh terhadap kegiatan belajar mengajar. Hubungan guru dengan siswa yang penuh simpati dan saling menerima merupakan kunci pelaksanaan dari pendekatan ini. Dengan demikian, pendekatan ini menekankan pentingnya tingkah laku atau tindakan guru yang menyebabkan siswa memandang guru itu benar-benar terlibat dalam pembinaan siswa dan memperhatikan apa yang dialami siswa baik suka maupun duka. Implikasi dari pendekatan ini adalah bahwa siswa bukan semata-mata sebagai individu yang sedang mempelajari pelajaran tertentu, tetapi dipandang sebagai keseluruhan pribadi yang sedang berkembang sehingga hubungan guru dengan siswa yang positif, sikap mengerti dan sikap mengayomi atau sikap melindungi akan terwujud.
6.  Pendekatan kerja kelompok (group procces approach), dalam pendekatan in, peran guru adalah menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan mendorong perkembangan serta kerja sama kelompok. Pengelolaan kelas dengan proses kelompok memerlukan kemampuan guru untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan kelompok menjadi kelompok yang produktif, dan selain itu guru harus pula dapat menjaga kondisi itu agar tetap baik. Untuk menjaga kondisi kelas tersebut guru harus dapat mempertahankan semangat yang tinggi, mengatasi konflik, dan mengurangi masalah-masalah pengelolaan.
7.  Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
8. Pendekatan pengajaran,  pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan menghentikan tingkah laku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
9.   Pendekatan elektis atau pluralistik (electic approach) adalah pandangan yang mencakup tiga pendekatan  (perubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok).
Pendekatan elektis ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas, dan inisiatif wali atau guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut berdasarkan situasi yang dihadapinya. Penggunaan pendekatan itu dalam suatu situasi mungkin dipergunakan salah satu dan dalam situasi lain mungkin harus mengkombinasikan atau ketiga pendekatan tersebut. Pendekatan elektis disebut juga pendekatan pluralistik, yaitu pengelolaan kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Guru memilih dan menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dan penggunaannnya untuk pengelolaan kelas di sini adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.

2.5  Penerapan Sistem dalam Pengelolaan Kelas
Mengelola kelas merupakan pembuatan keputusan-keputusan yang direncanakan bukan keputusan-keputusan spontan yang diambil dalam keadaan darurat jika seorang guru dalam keadaan marah dan frustasi terhadap siswa. Setelah guru tenang kembali ia merasa bahwa hukuman tersebut terlalu berat apabila telah terjadi lagi pelanggaran serupa oleh siswa lain haruskah guru berbuat seperti itu lagi? Jika demikian, ia bertindak tidak adil tetapi tidak bertindak demikian, ia tidak konsisten biasanya antisipasi terhadap timbulnya masalah-masalah di kelas akan menolong guru dari dilema-lema seperti itu. Dasar dari pendekatan yaitu bahwa perilaku yang baik di kelas sebagian dapat dibentuk dengan cara memberikan ganjaran atau tidak.
1.   Teknik mendekati, bila seorang siswa mulai bertingkah, satu teknik yang biasanya efektif yaitu teknik mendekatinya. Kehadiran guru bisa membuatnya takut, dan karena itu dapat menghentikannya dari perbuatan yang disruptif , tanpa perlu menegur andai kata siswa mulai menampakan kecenderungan berbuat nakal, memindahkan tempat duduknya ke meja guru dapat berefek preventif.
2.   Teknik memberikan isyarat, apabila siswa berbuat penakalan kecil, guru dapat memberikan isyarat bahwa ia sedang diawasi. Isyarat tersebut dapat berupa petikan jari, pandangan tajam, atau lambaian tangan.
3.   Teknik mengadakan humor, jika insiden itu kecil, setidaknya guru memandang efek saja, dengan melihatnya secara humoristis, guru akan dapat mempertahankan suasana baik, serta memberikan peringatan kepada si pelanggar bahwa ia tahu tentang apa yang akan terjadi.
4.   Teknik tidak mengacuhkan, untuk menerapkan cara ini guru harus lues dan tidak perlu menghukum setiap pelanggaran yang diketahuinya. Dalam kasus-kasus tertentu, tidak mengacuhkan kenakalan justru dapat membawa siswa untuk diperhatikan.
5.   Teknik yang keras, guru dapat menggunakan teknik-teknik yang keras apabila ia dihadapkan pada perilaku disruptif yang jelas tidak terkendalikan. Contohnya mengeluarkannya dalam kelas.
6.   Teknik mengadakan diskusi secara terbuka, bila kenakalan di kelas mulai bertambah, sering guru menjadi heran. Ia lalu menilai kembali tindakan dan pengajarannya untuk menjelaskan perbuatan-perbuaatan siswa-siswanya. Dan menciptakan suasana belajar yang sedikit lebih sesuai daripada sebelumnya.
7.   Teknik memberikan penjelasan tentang prosedur, kadang-kadang masalah kedisiplinan ada hubungannya yang langsung dengan ketidakmampuan siswa melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Kesulitan ini terjadi apabila guru berasumsi bahwa siswa memiliki keterampilan, padahal sebenarnya tidak. Masalah yang hamper sama yaitu masalah-masalah perilaku yang lazimnya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak biasa di kelas.
8.   Mengadakan analisis, kadang-kadang terjadi hampir terus menerus berbuat kenakalan, guru dapat mengetahui masalah yang akan di hadapinya dan mengurangi keresahan siswanya.
9.   Mengadakan perubahan kegiatan, apabila gangguan di kelas meningkat jumlahnya, tindakan yang harus segera diambil yaitu mengubah apa yang sedang Anda lakukan. Jika biasanya diskusi, maka ubahlah dengan memberikan ringkasan-ringkasan untuk dibaca atau menyuruh mereka membaca buku-buku pilihan mereka.
10.     Teknik menghimbau, kadang-kadang guru sering mengatakan, “harap tenang”. Ucapan tersebut adakalanya membawa hasil siswa memperhatikannya. Tetapi apabila himbauan sering digunakan mereka cenderung untuk tidak menggubrisnya.
2.6 Peran Guru dalam Strategi Pengelolaan Kelas
Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Adam dan Decey mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator.
Guru sebagai pengelola kelas harus memiliki managemen kelas, tanpa kemampuan ini maka performence dan karisma guru akan menurun, bahkan kegiatan pembelajaran bisa kacau tanpa tujuan. Guru sebagai pengelola kelas bertugas membuat anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar di dalamnya. Beberapa fungsi guru sebagai pengelola kelas adalah merancang tujuan pembelajaran, mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran, memotivasi yang bisa dilakukan dengan memberi hukuman atau reward, mendorong, dan menstimulasi siswa serta mengawasi segala sesuatu apakah berjalan dengan lancar apa belum dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam belajar, diperlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Pengorganisasian kelas adalah suatu rentetan kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif, misalnya :
a.         pengaturan penggunaan waktu yang tersedia untuk setiap pelajaran,
b.        pengaturan ruangan dan perabotan pelajaran di kelas agar tercipta suasana    yang menggairahkan dalam belajar’
c.         pengelompokan siswa dalam belajar disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa itu sendiri.
2.7 Beberapa Masalah Pengelolaan Kelas
Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator kegagalan itu adalah prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuia dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai oleh guru dalam kerangka keberhasilan proses belajar-mengajar.
Keanekaragaman masalah perilaku siswa yang menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas menurut Made Pidarta adalah :
1)        Kurang kesatuan dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan jenis kelamin.
2)        Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok.
3)        Reaksi negative terhadap anggota kelompok.
4)        Reaksi mentoleransi kekeliruan-kekeliruan.
5)        Mudah mereaksi perilaku negative / terganggu.
6)        Moral rendah, permusuhan, dan agresif.
7)        Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah.
Kategori masalah pengelolaan kelas menurut Doyle ( 1986 ) terungkap dalam lima bentuk :
1)        Berdimensi banyak ( Multidimensionality ), guru dituntut melaksanakan tugas edukatif ( menyusun persiapan mengajar lengkap dengan alat serta sumber, menyampaikan pelajaran dan mengevaluasi ) dan tugas administrative ( mengabsen, mencatat data siswa, menyusun jadwal, mencatat hasil-hasil pengajaran, dan sebagainya ).
2)        Serentak ( Simultaneity ), berbagai hal dapat terjadi pada waktu yang sama di kelas.
3)        Segera ( Immediacy ), interaksi yang terjadi antara guru dengan siswa terjadi timbale-balik begitu cepat, sehingga menuntut guru agar dapat segera bertindak melalui proses berpikir, menerima rangsangan dari luar, berpikir, memutuskan dan melaksanakan tindakan.
4)        Iklim kelas yang tidak dapat diramalkan terlebih dahulu.
5)        Sejarah ( History ), peristiwa yang terjadi di kelas akan memiliki dampak yang akan dirasakan dalam waktu yang jauh sesudahnya.
Masalah pengelolaan kelas dapay dikelompokkan menjadi dua :
1) Masalah individu
a)    Pola perilaku mencari perhatian baik aktif ( melucu ) maupun pasif ( berbuat serba lambat ).
b)   Pola perilaku menunjukkan kekuatan baik aktif ( mendebat, marah-marah, menangis ) maupun pasif ( lupa peraturan-peraturan kelas yang sudah sepakati sebelumnya ).
c)    Pola perilaku untuk membalas dendam.
d)   Pola perilaku dengan menampilkan peragaan ketidakmampuan ( bersikap masa bodoh terhadap pekerjaan apapun ).
2) Masalah kelompok :
a)      Kelas kurang kohesif ( akrab ), karena alasan jenis kelamin, suku, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya.
b)      Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.
c)      Kelas mereaksi secara negative terhadap salah leorang anggotanya.
d)     Menyokong anggota kelas yang melanggar norma kelompok.
e)      Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.
f)       Semangat kerja rendah atau semacam aksi protes kepada guru.
g)      Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi yanmg baru.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan pengelolaan kel;as adalah :
a)    Kurikulum
b)   Bangunan dan sarana, seperti penataan ruang kelas, pengaturan tempat duduk, pengaturan alat-alat pengajaran, penataan keindahan dan kebersihan kelas serta pengaturan ventilasi dan tata cahaya.
c)    Guru, mencakup bagaimana kepemimpinan guru, sikap guru, suara guru, pembinaan raport, dan mendisiplinkan siswa.
d)   siswa, meliputi pembentukan organisasi dan pengelompokkan siswa. Pengelompokkan siswa dapat dilaksanakan berdasarkan berkawan, kemampuan, dan minat. Pengelompokkan siswa yang dibagi menjadi kelompok-kelompok kecilmenurut Udin Sarifuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata ( 1991 ), meliputi pola bekerja palalel ( kelompok belajar dengan tugas yang sama ), pola bekerja komplementer ( kelompok belajar dengan tugas yang berbeda-beda ), serta  pola kerja paralel dan komplementer ( dua kelompok belajar atau lebih mendapat tugas yang sama, sedangkan dua atau lebih lainnya mendapat tugas yang sama ). Cara lain untuk pengelompokan siswa adalah dengan pembentukan kelompok diserahkan kepada siswa, pembentukan kelompok diatur guru sendiri, dan pembentukan kelompok diatur guru atas usul siswa.
e)    Dinamika kelas, cara guru menerapkan administrasi pendidikan dan kepemimpinan pendidikan serta dalam mempergunakan pendekatan pengelolaan kelas.
f)    Lingkungan sekitar.

2.8 Indikator Pengelolaan Kelas Yang Berhasil
Ada beberapa indicator yang bisa digunakan sebagai tolak ukur bahwa pengelolaan kelas dapat dikatakan berhasil adalah sebagai berikut :
1.        Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
2.        Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
3.        Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
4.        Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5.        Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
6.        Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari
Dalam prosesnya ada juga guru yang belum pandai dalam mengelola kelas, sehingga tujuan pembelajarannya tidak bisa tercapai. Disini akan dijelaskan hal-hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak :
1.        Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
2.        Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.
2.9 Hal-Hal yang Harus Dihindari dalam Mengelola Kelas
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut.
·      Campur tangan yang berlebih (teachers instruction
Apabila guru menyela kegiatan yang sedang asyik berlangsung dengan komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak, kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberi kesan kepada siswa bahwa guru tidak memperhatikan keterlibatan dan kebutuhan anak. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri. 
·       Kelenyapan (fade away)
Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk, atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas. Juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal, atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran. Akibatnya ialah membiarkan pikiran siswa mengawang-awang, melantur, dan mengganggu keefektifan serta kelancaran pelajaran. 
·        Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and stars)
Hal ini dapat terjadi bila guru memulai suatu aktivitas tanpa mengetahui aktivitas sebelumnya menghentikan kegiatan pertama, memulai yang kedua, kemudian kembali kepada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
·         Penyimpangan (digression)
Akibat guru terlalu asyik dalam suatu kegiatan atau bahkan tertentu memungkinkan ia dapat menyimpang. Penyimpangan tersebut dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar siswa.
·         Bertele-tele (overdweiling)
Kesalahan ini terjadi bila pembicaraan guru bersifat mengulang-ulang hal-hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran sederhana menjadi ocehan atau kupasan yang panjang.

2.10  Pengaruh Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
Pembelajaran yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pembaharuan kurikulum, fasilitas yang tersedia, kepribadian guru yang simpatik, pembelajaran yang penuh kesan, wawasan pengetahuan guru yang luas tentang semua bidang, melainkan juga guru harus menguasai kiat memanejemeni kelas.
Pemahaman akan prinsip-prinsip manajemen kelas ini penting dikuasai sebelum hal-hal khusus diketahui. Dengan dikuasainya prinsip-prinsip manajemen kelas, hal ini akan menjadi filter-filter penyaring yang menghilangkan kekeliruan umum dari manajemen kelas.
Manajemen kelas dapat mempengaruhi tingkat kualitas pembelajaran di kelas karena manajemen kelas benar-benar akan mengelola susasana kelas menjadi sebaik mungkin agar siswa menjadi nyaman dan senang selama mengikuti proses belajar mengajar. Oleh karena itu, kualitas belajar siswa seperti pencapaian hasil yang optimal dan kompetensi dasar yang diharapkan dapat tercapai dengan baik dan memuaskan. Selain itu, manajemen kelas juga akan menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik. Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode  mengajar yang tepat sehingga mampu mengelola kelas dengan baik agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar.
Pengelolaan Kelas adalah berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru agar mampu mengelola kelas dengan baik supaya tujuan pembelajran kita tercapai serta dapat mempertahankan kondisi yang optimal bagai terjadinya proses belajar mengajar.
3.2 Saran
Saran yang mungkin dapat terurai dalam makalah ini adalah kita sebagai calon guru setidaknya dan seharusnya tahu apa itu arti pengelolaan atau management kelas agar kita tahu gambaran yang harus dipersiapkan sebelum atau setelah pembelajaran agar tujuan dari pembelajran itu tercapai secara efisien dan sukses. Kemudian yang perlu ditekankan kepada guru sekarang adalah lebih mengausai arti pengelolaan. Banyak guru sekarang sudah lupa dan mulai pudar akan definisi pengelolaan kelas. Mereka Menganggap mengajar ya mengajar saja, seharusnya dari konteks pembelajaran yang sukses adalah tahu masing masing karakter dari setiap siswa, dari latar belakang mereka sehingga apabila ada suatu kendala kita mampu mengatasinya dengan cara pendekatan secara emosional lah yang mampu menyelesaikan masalah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Kosasi, Raflis. 2005. Efektifitas Pengelolaan Kelas. Jakarta: Viva Pakarindo
Soetjipto. 2007. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta


Bookmark and Share

JANGAN LUPA KLIK IKLANNYA YAA..
1 X KLIK SANGAT BERARTI

Anda sedang membaca artikel Makalah Pengelolaan Kelas. Terimakasih atas kunjungan serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jika memang bermanfaat, Anda boleh menyebarluaskannya dan jangan lupa untuk menyertakan sumber link dibawah ini:

http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2013/05/makalah-pengelolaan-kelas_15.html

0 comments:

Posting Komentar