EnsikloPenjas

Jumat, 19 April 2013

Makalah Kebenaran Ilmu Alamiah dan Latar Belakang Ilmu Alamiah


BAB I
PEMBAHASAN

1.1   Latar Belakang
Untuk melaksanakan profesi sebagai tenaga pendidik khususnya guru sangat memerlukan aneka ragam pengetahuan dan keterampilan keguruan yang memadai dalam arti sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan sains dan teknologi. Diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan ilmu alamiah dasar yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar dalam suasana zaman yang berbeda dan penuh tantangan seperti sekarang ini.
Metodelogi Penelitian merupakan salah satu mata kuliah yang termasuk mata kuliah umum yakni mata kuliah dengan bobot 2 sks ini wajib diikuti oleh setiap mahasiswa pada studi non extra dengan maksud mahasiswa dikenalkan pada konsep-konsep dasar alamiah dalam menunjang dan melandasi pengetahuan mahasiswa dalam memahami, mengkaji dan menerapkan pengetahuan lainnya, khususnya pemecahan-pemecahan masalah, teori maupun konsep yang berkaitan dengan alam.
Materi ilmu alamiah dasar ini tentu saja hanya bersifat dasar, umum dan pengantar yang berkenaan dengan fenomena alam dan daya fakir manusia hingga mampu memperoleh budaya modern yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya.

1.2   Rumusan Masalah
1.    Bagaimana kelahiran ilmu alamiah?
2.    Bagaimana kebenaran pengetahuan?
3.    Apakah pengertian penelitian ilmiah?
4.    Apa saja peran penelitian tersebut?




BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kelahiran Ilmu Alamiah
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa lahirnya ilmu alamiah tidak terlepas dari lahirnya filsafat ilmu alamiah (filsafat sains). Bukti-bukti sejarah telah menyimpulkan bahwa Yunani adalah negara tempat munculnya para pemikir-pemikir ilmu. Para tokohnya ialah, Thales yang hidup sekitar 625 sampai 545 SM dan Anaximandros yang hidup sekitar tahun 610 sampal 547 SM serta Anaximenes yang hidup sekitar tahun 585 sampai 528 SM.
Tiga pemikir itu ialah orang pertama berpikir tentang dunia pengetahuan. Mereka sama-sama mengemukakan pendapat tentang asal-usul kejadian alam yang saat itu mulai rame menjadi teka-teki masyarakat Yunani. Ketertarikan mereka berawal dari perubahan terus-menerus yang dapat disaksikan di alam seperti, kejadian siang-malam, musim, angin, dll. Proses bepikir yang digunakan ialah “deduktif” namun hasil pikirnya sangat penting di dalam perkembangan Ilmu Alamiah.
Setelah itu, pada masa sekitar abad 5 SM, perkembangan pesat pemikiran-pemikiran tentang alam. Ada pun tokoh-to­koh yang terkenal di masa itu ialah Socrates, Gorgias, Hippias dan Prodikos. Pada masa ini pemikiran cenderung antropologis atau mengarah kepada kegiatan kemanusiaan. Dari ajaran-­ajaran merekalah (terutama Socrates) bangsa Yunani mulai mengenal dan menghormati nilai unsur-unsur pada manusia yang kelihatannya bertentangan, yaitu jasmani dan rohani.
Setelah dua masa itu lalu muncul lain yang dihuni oleh tokoh-tokoh seperti Plato (427-437 SM) dan Aristoteles (483-­32 SM). Kedua tokoh ini mencoba memadukan pola pemikiran yang dilakukan oleh para pendahulunya. Plato di dalam berpikir cenderung melakukan dialog, agar mempunyai nilai obyektif yang handal. Aristoteles, lebih dikenal dengan logika berpikirnya. Intisari isinya ialah “silogisme”, yaitu menarik kesimpulan dari pengertian yang luas dan mempunyai ke­benaran umum (deduktif).
Aristoteles juga ilmuwan yang mula-mula menerjuni ilmu alamiah terutama Biologi. la menyatakan bahwa makhluk tingkat rendah terbuat atau berasal dari lumpur dan kotoran. Makhluk yang tidak berdarah dan bertulang mempunyai tingkatan yang lebih rendah dari pada makhluk yang berdarah dan bertulang. Tingkatan yang lebih rendah memberikan ja­sa serta mengabdi kepada tingkatan yang di atasnya, seperti tumbuhan memberikan jasa kepada hewan, hewan kepada manusia.
Bahkan dari masa ini pula, muncul pertanyaan bersejarah yang menjadi bahan perbincangan menarik sampai berpuluh-puluh tahun setelahnya, yaitu tentang asal-usul kehidupan. Salah satunya ialah pendapat Aristoteles tentang terciptanya hewan-hewan dari benda-benda tak hidup, telah membawa Aristoteles sebagai tokoh fahamabiogenesis, artinya makhluk hidup yang ada sekarang berasal dari makhluk tak hidup.
Setelah masa Aristoteles, perkembangan ilmu masih dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles, banyak para ahli masih mengandalkan kekuatan pikir sebagai satu-satunya jalan dalam memecahkan masalah. Oleh sebab itu banyak sumber bacaan yang menyatakan bahwa sumbangan Yunani terhadap ilmu alamiah berada dalam takaran kecil, karena menggunakan dasar-dasar eksperimental dalam menggali jawaban.
Baru kemudian pada tahun 300 SM sampai 200 M berkembang ilmu alamiah dengan bersandar pada eksperi­mentasi. Masa itu dikenal dengan nama Era Iskandariah. Ilmuwan terkenal saat itu ialah Archimedes yang dikenal sebagai pembuat skrup pengangkat air. Heron yang terkenal dengan air mancur dan mesin uapnya, dan Ptolomeus yang terkenal dengan pernyataan bahwa bumi adalah pusat jagat raya, bintang dan matahari mengelilingi bumi (geosentris), planet beredar melalui orbitnya sendiri dan terletak antara bumi dan bintang.
Kurang lebih mulai tahun 800 M (abad VIII), perkem­bangan ilmu alamiah lebih bersinar dan lebih bergaung di da­erah-daerah berperadaban Islam, saat para ilmuwan Islam menjadi kelompok terdepan dalam peradaban. Dr. Mahdi Ghulsyani (seorang Doktor dariIran) di dalam bukunya yang berjudul “The Holy Quran and the Science of Nature” menya­takan bahwa pada abad-abad awal peradaban Islam berada pada puncaknya, beberapa cendekiawan muslim telah memiliki pandangan bahwa ilmu-ilmu yang berbeda mempunyai perspektif tunggal, dan dipandang saling berhubungan seba­gaimana cabang-cabang “pohon” pengetahuan. Seluruh tu­juan-tujuan ilmu dipandang sebagai penemuan kesatuan dan koherensi di dalam dunia. Sesuai dengan itu, sumber seluruh ilmu di alam dipandang satu. Untuk memahami berbagai tingkat dan taraf eksistensi, mereka menggunakan pendekatan eksperimental di samping pendekatan intelektual dan intuitif. Selama periode itu kita menemukan sejumlah contoh para il­muwan yang mengkombinasikan otoritas di dalam ilmu-ilmu agama dengan pengetahuan ilmu-ilmu kealaman. Orang-orang itu antara lain ialah Jabir Ibn Hayyan (721 M-815M). la adalah pendiri laboratorium pertama di dunia yang dikenal sebagai “bapak ilmu kimia” karena buku-buku kimia dikarangnya telah diterjemahkan ke bahasa Latin dan Inggris.
Al-Kindi atau dikenal di Barat dengan nama al-Kindus dikenal sebagai filsuf penggerak ilmu pengetahuan, karena telah banyak menulis buku antara lain tujuh buku astronomi, tidak kurang dari 15 buku meteorologi, kurang lebih lima bu­ku tentang ilmu pengobatan, geometri, ilmu hitung, logika dan magnitude (besaran). Selain al-Kindi, tersebutlah Ibnu Sina (980-1037 M). la disebut “raja dirajanya” dokter dan penemu berbagai macam ilmu. Bukunya “Qanunfiath-Thibb” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Hebrew (ba­hasa-bahasa pengantar ilmu pengetahuan saat itu). Buku ini telah dianggap sebagai “buku suci” ilmu kedokteran dan telah menguasai dunia pengobatan di Eropa untuk kurang lebih 500 tahun, beberapa Sekolah Tinggi Kedokteran di Eropa saat itu telah menjadikan buku ini sebagai textbook. Oleh be­berapa ilmuwan buku “Qanunfiath-thiib” disebut sebagai En­siklopedi Kedokteran, dan Ibnu Sina ialah ilmuwan pertama yang menulis ensiklopedi di bidang kedokteran. Selain para ilmuwan di atas masih banyak lagi ilmuwan Islam yang telah mengantarkan kemajuan Ilmu Alamiah, seperti Umar Khay­yam, Khwajah Nashir Al-Din Thusi, Quthb Al-Din Syirazi, dll.
Secara umum sumbangan yang diberikan oleh dunia Islam kepada ilmu alamiah tergolong sangat besar. Ilmuwan­-ilmuwan Islam saat itu telah menoreh langkah-langkah eks­perimentasi dalam memecahkan masalah ilmu alamiah. Berikut ini ialah garis besar sumbangan mereka dalam mengem­bangkan ilmu alamiah:
a.       Menerjemahkan, mengembangkan, dan menyebarlu­askan ke Eropa penemuan-penemuan serta literatur ilmuwan Yunani.
b.      Mengembangkan langkah eksperimentasi, sehingga dapat memperluas pengamatan atau penyelidikan dalam bidang kedokteran, kimia, obat-obatan, astro­nomi, dan biologi.
Pesatnya perkembangan ilmu di peradaban Islam, mulai meredup pada tahun 1350 M. Beberapa literatur mengatakan redupnya perkembangan ilmu alamiah di daerah asal pera­dabannya karena masih memakai dasar filsafat dan agama.
Selanjutnya pada abad ke-14 di Eropa mulai muncul ge­rakan pembebasan dari segala bentuk keterkaitan atau paksaan, sehingga muncullah masa kebangkitan (renaissan­ce), zaman ini disebut masa ilmu pengetahuan modern. Dan para ilmuwan lebih menekankan pemikiran secara induktif. Adalah Roger Bacon (1214 - 1294) dan Francis Bacon (1561 -1626), tokoh filosof yang berpendapat bahwa cara berpikir in­duktif merupakan satu-satunya jalan mencapai kebenaran. Francis Bacon menegaskan bahwa hanya penyelidikan dan eksperimentasi yang menumbuhkan pengertian terhadap kea­daan alam. Sejak saat itulah dikenal langkah-langkah metode sebagai langkah eksperimentasi yang lebih maju daripada masa kejayaan Islam.
Ilmuwan-ilmuwan pada masa itu yang dianggap sebagai pelopor ialah Nicolaus Copernicus (1473 - 1543), Johanes Keppler (1571 - 1630), Galileo Galilei (1546 - 1642). Adalah Galileo Galilei ilmuwan yang menggunakan teropong bin­tang guna melihat ke angkasa dan membenarkan konsep heliosentris yang dikemukakan oleh N. Copernicus. Mereka sama-sama menolak konsep geosentris yang telah diyakini oleh kalangan agamawan nasrani saat itu. Sejak itu mulailah pengembangan dan penemuan ilmu alamiah dengan berlandaskan metode ilmlah.

2.2. Memperoleh Kebenaran Pengetahuan
Ada dua pendorong kuat yang menyebabkan Ilmu pengetahuan (IPA dan IPS) maju pesat, yaitu pertama hasrat ingin tahu, yang kedua daya pikir (nalar) manusia. Dua pendorong inilah yang menyebabkan orang bertanya-tanya bila ada masalah di lingkungannya: apakah gerangan yang menyebabkan kilat, mengapa terjadi gerhana bulan, apa yang terdapat di bulan, dan masih seribu satu masalah yang lain.
Hasrat ingin tahu manusia terpuaskan bila ia memperoleh pengetahuan mengenai hal yang dipermasalahkan atau ditanyakan. Pengetahuan yang benar (kebenaran) memang secara “terbatas” dapat dicapai oleh manusia. Caranya dengan pen­dekatan non-ilmiah dan pendekatan ilmiah.
Pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan non-ilmiah hasilnya cenderung subyektif, tidak verifikatif. Pende­katan ini tidak memberi kepastian dan belum ada garansi akan menemukan kebenaran (penyelesaian masalah). Pendekatan ini dipakai oleh orang-orang zaman dahulu sebelum ilmu alamiah dan teknologinya berkembang luar biasa. Cara-Cara pendekatan ini antara lain cara kebetulan, prasangka, intuisi,trial and error dan otoritas.
Cara kebetulan. Melalui cara ini seseorang (ilmuwan) yang tidak mempunyai rencana untuk menemukan ilmu atau kebenaran telah menemukan hal itu dengan tidak sengaja. Contohnya, J.S. Summers menemukan enzim urease di dalam ekstrak aseton yang telah disimpannya di dalam kulkas. Alex­ander Flemming menemukan antibiotika penisilin sewaktu mengadakan pengamatan bakteri yang ada di dalam cawan petri. Cara-Cara ini sangat pasif dan tidak bermetode, namun apa yang telah ditemukan oleh kedua ilmuwan akhirnya sangat fungsional.
Prasangka. Prasangka ialah cara memperoleh kebenaran yang didasarkan pada kenyataan-kenyataan yang belum diuji kebenarannya. Contohnya: X punya mobil, sawah yang luas dan villa (rumah peristirahatan), padahal ia hanya seorang guru SD. Akhirnya orang berprasangka bahwa ia melakukan korupsi. Tuduhan itu tidak benar karena setelah diselidiki ternyata itu semua harta warisan.
Intuisi. Ini ialah kebenaran yang didasarkan pada penge­tahuan yang langsung atau didapat dengan cepat melalui proses yang tidak disadari atau tidak dipikirkan terlebih da­hulu. Dengan intuisi orang memberikan penilaian tanpa dida­hului suatu renungan. Pencapaian pengetahuan yang demi­kian sukar dipercaya. Cara ini sering muncul pada saat ba­ngun tidur pagi, saat ibadah (misal sholat).
Trial and error (coba-coba). Yaitu melakukan sesuatu seca­ra aktif dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali­-kali serta menukar-nukar cara dan materi. Cara ini kalau dilaksanakan tidak memberi kepastian dan faktor keberuntungan masih memegang peranan penting.
Otoritas.Yaitu kebenaran yang didasarkan pada penghor­matan pada suatu pendapat dari badan/orang-orang yang tertentu yang dianggap punya wibawa. Sering kali orang tidak lagi berusaha mencari jalan untuk menguji kebenaran pendapat itu. Percaya pada kebenaran “otoritas” tidak berarti sa­lah. Jadi dalam hal-hal tertentu pada penyelidikan dapat dipakai. Namun, perlu ditekankan tentang kemungkinan ke­salahan yang terjadi bilamana “otoritas” itu diterima secara mutlak (karena pada umumnya tidak didasarkan pada penelitian).
Di dalam Ilmu Alamiah tidak dikenal penemuan kebenaran atau pemecahan masalah melalui cara di atas. Ilmu alamiah diperoleh melalui pendekatan metode ilmiah dan dibangun diatas teori-teori yang sudah ada dan fakta-fakta alam. Sedangkan sifat kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja dan di mana saja yang berkehendak untuk mengujinya. Metode ilmiah sebagai cara memiliki ciri seperti tersebut pada Bab 1, yaitu sistematis, metodik, obyektif, dan universal.
Di dalam kebiasaan akademis para ilmuwan akan melakukan penelitian ilmiah sebagai cara untuk bekerja secara il­miah karena di dalam penelitian itulah terdapat unsur dan jiwa metode ilmiah. Jadi boleh dikatakan bahwa pendekatan ilmiah itu cara pemecahannya melalui penelitian sedangkan pendekatan non-ilmiah melalui cara non-penelitian. Kedua cara itu sama-sama bertujuan memperoleh kebenaran, tetapi sifat, cara kerja dan keandalan kebenarannya berbeda.

2.3. Pengertian Penelitian Ilmiah (Metode Ilmiah)
Sebagai mahasiswa, pendekatan ilmiah atau penelitian ilmiah adalah pekerjaan yang tidak boleh ditinggalkan dalam mengupas permasalahan pengetahuan. Misalnya masalah:
"Apakah keadaan sosial-ekonomi orang tua mempengaruhi kemajuan belajar siswa?"
Di dalam menjawab masalah itu, kita tidak boleh berpra­sangka, berintuisi, atau “mencoba-coba” dengan mengatakan “memang ada pengaruh” dengan hanya berlandaskan keku­atan pikir atau perasaan. Sebab, setiap orang punya kemam­puan yang berbeda-beda dalam berpikir dan berperasaan. Bisa jadi masalah itu akan punya jawaban yang bermacam ­macam tergantung siapa penjawabnya.
Bagaimana supaya kita mendapatkan jawaban yang seragam? Caranya adalah melalui penelitian. Apa penelitian itu? Menurut Wayan Ardhana (1987 : 3) penelitian adalah suatu penyelidikan secara sistematik, terkontrol, empirik, dan kritis mengenai proposisi-proposisi hipotetis tentang hubungan atau perbandingan yang diperkirakan ada pada fenomena alam. Berbeda dengan cara-cara pemecahan masalah kehidupan pada umumnya, penelitian memiliki tiga ciri pokok:
a.       Penelitian bersifat sitematik dan terkontrol, yang men­dasarkan cara kerjanya pada metode induktif-deduktif.
b.      Penelitan bersifat empirik, artinya dalam usaha menguji kesahihan penelitian berpedoman pada pengalaman
c.       Bersifat verifikatif.
Ringkasnya penelitian merupaka perpaduan antara pengalaman dan penalaran (berpikir kritis) dan harus dianggap sebagai pendekatan yang paling berhasil dalam menenetukan kebenaran, khususnya dalam ilmu alamiah.
1.  Menemukan masalah
Masalah adalah sumber inspirasi. Dari mana masalah ditemukan?Ada banyak sumber: melalui kegiatan manusia, kejadian di alam, mengikuti seminar (pertemuan ilmiah), membaca, dan masih banyak lagi.
Sebagai contoh yang ringan, seorang mahasiswa mene­mukan permasalahan ketika ia melihat banyak swalayan dan supermarket pada jam-jam sekolah.
Minimal ia bertanya mengapa para siswa ada disini? Boloskah dia, atau memang gurunya sudah bosan menghadapi siswa?
Pada dasarnya mudah menemukan permasalahan untuk penelitian. Oleh sebab itu kemampuan menemukan masalah dan mengidentifikasikannya adalah kemampuan awal yang perlu dipupuk oleh para mahasiswa untuk bisa melakukan penelitian.
2.  Merumuskan masalah dan tujuan
Setelah masalah ditemukan, langkah selanjutnya adalah merumuskan masalah dan tujuan. Maksudnya ditempuh cara ini adalah untuk menghilangkan keragu-raguan ter­hadap masalah yang akan dipecahkan dan menentukan arah pekerjaan yang akan dilaksanakan.
3.  Studi pustaka dun merumuskan hipotesis
Setelah masalah dan tujuan dirumuskan, penelitian harus mencari informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang digarap. Informasi ini berupa hasil penelitian terdahulu, teori-teori dan konsep-konsep yang perlu. Hasil dari studi pustaka dirumuskan hipotesis.
Hipotesis adalah kesimpulan sementara tentang hubungan sebab-akibat dari fenomena dalam penelitian. Hipotesis dianggap sebagai kebenaran dugaan yang belum teruji.
4.  Menetapkan metode kerja
Langkah ini bermaksud menyusun langkah strategic penelitian sehingga dalam melaksanakannya nanti peneliti dapat bekeqa sesuai dengan prosedur dan tidak terpe­ngaruh oleh keadaan lapangan. Strategic yang dimaksud dalam langkah ini ialah menyusun metode penelitian yang sistematis, terorganisir, terkontrol.
5.  Mengumpulkan dan mengolah data
Setelah data terkumpul, peneliti harus mengumpulkan data-data penelitian. Data ini berguna sebagai fakta untuk menguji hipotesis yang telah disusun. Bagaimanakah bentuk data yang dikumpulkan? Sangat tergantung pada metode atau jenis penelitiannya. Setelah data terkumpul, kemudian diolah dalam bentuk tabulasi, coding atau yang lain.
6.  Analisis data dan kesimpulan
Setelah dilakukan pengolahan data, langkah berikutnya dianalisis dengan cara pendekatan statistik atau non-sta­tistik. Untuk cara statistik, sekarang sudah ada program computer yang dapat menganalisis data kuantitatif (dalam bentuk angka) secara cepat dan tepat. Contohnya program Microstat, stata, FPS, dll).
Setelah data dianalisis, peneliti harus menginterpre­tasikan hasil analisis atas data yang sudah terkumpul. Kemudian menyimpulkan hasil dengan berpedoman pada hipotesis dan tujuan penelitian. Apakah tujuan sudah tercapai? Atau bagaimanakah hipotesis kita, diterima atau ditolak?

2.4. Peranan Penelitian
Menurut Zaini Hasan (1987 : 8-9) peranan penelitian da­lam kehidupan manusia dapat dilacak melalui penggunaan pengetahuan yang dihasilkan oleh para peneliti. Hampir semua aspek kehidupan manusia, terutama dalam bidang-bidang memegang peranan yang sangat penting.
1.  Dalam pengembangan ilmu pengetahuan
Pada mulanya, penelitian ilmiah dilakukan dengan tuju­an utama untuk mengetes atau mengembangkan konsep, generalisasi atau teori-teori dalam disiplin-disiplin ilmu pengetahuan. Sekarang penelitian yang dennikian disebut penelitian murni atau penelitian dasar untuk membeda­kan dengan penelitian-penelitian lain yang tujuan utama­nya untuk memperoleh pengetahuan yang secara langsung akan diterapkan untuk memecahkan masalah dalam ke­hidupan sehari-hari.
2.  Dalam pengembangan teknologi
Seperti halnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi modern sekarang ini adalah hasil penelitian yang terus-menerus. Seorang teknokrat menemukan suatu me­tode atau cara kerja baru itu tidak mendadak sontak, melainkan setelah mempelajari hasil serangkaian pene­litian/eksperimen yang mendahuluinya. Dalam kependi­dikan, misalnya, metode mengajar yang efektif selalu men­jadi permasalahan yang tumpuan harapannya terletak kepada hasil eksperimentasi.
3.  Pembuatan kebijaksanaan dan perencanaan
Penelitian “needs assessment” dan “program evaluation” memegang peranan penting dalam membimbing para pem­buat keputusan dan para perencana program dalam mem­buat kebijaksanaan dan pengembangan program yang telah ada. Perubahan kependidikan, misalnya, selalu dida­sarkan atas hasil penelitian di samping kemauan politik.
4.  Pemecahan masalah di lapangan
"Operations research" dan "action research" memegang peranan penting dalam mengidentifikasi sebab-sebab tim­bulnya kesulitan atau hambatan pelaksanaan suatu pro­gram dan memberikan rekomendasi praktis yang langsung dapat diterapkan guna mengatasi masalah tersebut agar program dapat berjalan dengan lebih baik.


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, kita dapat menyimpulan bahwa perlunya peranan seorang tenaga pendidik khusunya guru diharapkan memahami arti pentingnya ilmu alamiah dasar bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
Untuk itu kita sebagai calon pendidik khususnya seorang guru perlu memahami adanya ilmu alamiah adalah sebagai dasar ilmu-ilmu yang telah ada saat ini.
3.2. Saran
1.      Bagi pembaca diharapkan lebih menguasai dan memahami isi dan hal-hal yang berkaitan dalam makalah ini.
2.      Agar lebih memanfaatkan waktu untuk membaca dan belajar.
3.      Bila ada kesalahan dalam penyusunan makalah ini mohon kritik dan saran yang bersifat membangun dan menjadikan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Rofiea, Ainur dkk. 1990. Ilmu Alamiah Dasar, Malang. UMM Press




Bookmark and Share

Anda sedang membaca artikel Makalah Kebenaran Ilmu Alamiah dan Latar Belakang Ilmu Alamiah. Terimakasih atas kunjungan serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jika memang bermanfaat, Anda boleh menyebarluaskannya dan jangan lupa untuk menyertakan sumber link dibawah ini:

http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2013/04/makalah-kebenaran-ilmu-alamiah-dan.html

0 comments:

Poskan Komentar