EnsikloPenjas

Kamis, 06 Juni 2013

Makalah Hipotesis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menusia mengamati dunia sekitarnya dan melihat terjadinya pristiwa-pristiwa seperti matahari terbit dan terbena, manusia lahir, hidup dan mjeninggal dunia, benda jatuh, hujan turun, orang tua mengasuh anak, ada orang yang kaya dan miskin, penyakit mmenyerang manusia dan sebagainya. Ia dapat menjadikan peristiwa atau gejala itu sebagai masalah, da ia bertanya “Apa sebab matahari terbit? Apa sebab manusia lahir? Apa sebab ada yang kaya dan yang miskin? Apa sebab manusia sakit? Dan sebagainya” ia mencoba untuk membentuk teori yang dpat menjalaskan peristiwa ataugejala-gejala itu.
Bagaimanakah diketahuinya kebenaran teori itu? Dari teori itu dapat diturunkannya hipotesis. Dengan membuktikan kebenaran atau ketidak benaran hipotesis itu secara empiris dapat pula diterima atau ditolaknya teori itu.

1.2 Rumusan Masalah
1.        Apa yang dimaksusd dengan hipotesis?
2.        Sebutkan jenis-jenis hipotesis?
3.        Bagaimana cara menguji hipotesis?
4.        Apa saja karakteristik dalam hipotesis?
5.        Apa hubungan teori dengan hipotesis?

1.3 Tujuan
Hipotesis bertujuan untuk membantu mahasiswa agar proses penelitiannya terarah dan menjadi karya yang dapat diterima oleh masyarakat umurnya dan bagi diri sendriri khususnya.
Kita dapat memahami tentang :
1.        Definisi hipotesis dari berbagai pendapat.
2.        Berbagai jenis hipotesis.
3.        Cara menguji hipotesis.
4.        Karakteristik hipotesis
5.        Hubungan teori dengan hipotesis
Sehingga dengan pemahaman diatas kita dapat mendapat hasil yang memuaskan.
1.4  Manfaat
Manfaat makalah ini diantaranya :
1.        Sebagai memenuhi tugas semester empat.
2.        Pemakalah dapat memahami cara membuat hipotesis.
3.        Pembaca dapat memehami definisi hipotesis, jenis-jenis hipotesis, dan cara menguji hipotesis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hipotesis
Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu hupo dan thesis. Kata hupo berarti lemah, kurang, atau di bawah, sedangkan thesis, berarti teori, proposisi, atau pernyataan yang disajikan sebagai bukti. Sehingga hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan atau dugaan yang isfatnya masih sementara.
Trealese (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati.
Good dan scates (1954) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.
Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan dari hubungan antara dua atau lebih variabel. Jadi hipotesis adalah hasil dari tinjauan pustaka atau proses rasional dari penelitian yang telah mempunyai kebenaran secara teoritik. Namun demikian kebenaran hipotesis masih harus diuji secara empirik. Oleh karena itu, hipotesis juga dianggap sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang telah dirumuskan dalam suatu penelitian dan masih perlu diuji kebenarannya dengan menggunakan data empirik.
Menurut ahli yang bernama Burg, hipotesis adalah suatu dugaan jawaban yang harus memenuhi beberapa persyaratan yakni :
1.        Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat dan jelas.
2.        Hipotesis dengan nyata menunjukkan hubungan antara dua atau lebih variable.
3.        Hipotesis harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atu hasil penelitian yang relevan.
Apabila  peneliti telah mendalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, maka lalu membuat suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu di uji. Sehingga peneliti akan bekerja berdasarkan hipotesis yang diajukan. Peneliti mengumpulkan data-data yang paling berguna untuk membuktikan hipotesis. Berdasarkan data yang terkumpul, peneliti akan menguji apakah hipotesis yang dirumuskan dapat naik status menjadi teori, atau sebaliknya tumbang sebagai hipotesis, apabila ternyata tidak terbukti.
Hipotesis merupakan, yakni dugaan yang mungkin benar, atau mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika faktor-faktor membenarkannya. Penolakan dan penerimaan hipotesis, dengan begitu sangat tergantung kepada hasil-hasil penyelidikan terhadap faktor-faktor yang dikumpulkan.
Hipotesis adalah hasil proses teoretik atau proses rasional yang berbentuk pernyataan tentang karakteristik populasi. Hipotesis juga merupakan  jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian yang ada pada perumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan teori yang relevan, belum didasarkan atas fakta-fakta empiris yang diperoleh dari pengumpulan data. Sebagai hasil proses teori yang belum berdasarkan atas fakta, maka hipotesis masih perlu diuji kebenarannya dengan data empiris.
Hipotesis dapat juga dipandang sebagai konklusi yang sifatnya sangat sementara. Sebagai konklusi sudah tentu hipotesis tidak dibuat dengan semena-mena, melainkan atas dasar pengetahuan-pengetahuan tertentu. Pengetahuan ini sebagian dapat diambil dari hasil-hasil serta problematika-problematika yang timbul dari penyelidikan-penyelidikan yang mendahului, dari renungan-renungan atas dasar pertimbangan yang masuk akal, ataupun dari hasil-hasil penyelidikan yang dilakukan sendiri. Jadi dalam taraf ini mahasiswa cukup membuat konklusi dari persoalan-persoalan yang diajukan dan merumuskannya dalam bentuk statemen (pernyataan). 
Setelah masalah penelitian berhasil dirumuskan dengan baik maka langkah berikutnya adalah mengajukan hipotesis yang didasarkan dari kajian mendalam teori-teori yang relevan dengan variabel-variabel penelitian. Agar sebuah kerangka teoretis meyakinkan maka argumentasi yang disusun dalam teori-teori yang dipergunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan terbaru.
Disamping itu, kerangka teori juga dapat dilakukan melalui pengkajian hasil-hasil penelitian yang relevan yang telah dilakukan peneliti lainnya. Hasil penelitian orang lain yang relevan dijadikan titik tolak penelitian kita dalam mencoba melakukan pengulangan, revisi, modidikasi, dan sebagainya.a

2.2 Jenis-Jenis Hipotesis
Hipotesis dapat dibedakan menurut bentuknya menjadi tiga, yaitu :
1)        Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris.
Banyak diantaranya pernyataan yang bersifat umum itu telah diketahui dan diakui kebenarannya oleh “Orang banyak”, Misalnya : Orang minagkabau banyak yang merantau, sedangkan orang jawa sangat terikat kepda kampong halamannya”.
2)        Hipotesis yang berkenaan dengan model ideal
Dunia kenyataan ini sangat kompleks dan untuk mempelajarinya metode atau tipe ide-ide merupakan alat yang sangat membantu, Misalnya : Pendidikan dengan anak.
3)        Hipotesis yang mencari hubungan antara sejumlah variable
Hipotesis ini lebih abstrak daripada kedua jenis hipotesis sebelumnya, dan menurut bentuknya hipotesis ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
a.         Hipotesis kerja
Biasanya seorang peneliti memilih hipotesis yang benar, sedangkan kebenaran hipotesis itu harus diguktikan. Sementara itu ia harus bekerja dengan hipotesis itu dan karena itu disebut hipotesis kerja atau hipotesis peneletian. Ada kemungkinan hipotesis itu mengalami perubahan sepanjang jalannya penelitian itu.
b.         Hipotesis nol
Disebut hipotesis nol sebab menganggap hipotesis itu tidak benar sama sekali, jadi berisi kosong. Jadi kalau hipotesis itu berbunyi “Orang minangkabau perantau” maka dengan hipotesis nol dikatakan bahwa “Orang minangkabau bukan perantau” . bila tidak terbukti bahwa “Orang minangkabau bukan perantau” maka hipotesis “Orang minagkabau perantau” itu benar.
c.         Hipotesis statistic
Hipotesis statistic menyatakan hasil observasi tentang populasi (manusia atau benda) dalam bentuk kuantitatif.
Misalnya kita duga bahwa pendapatan buruh pria (kelompo A) disebuah perusahaan lebih banyak daripada buruh wanita (kelompok B). pendapatan buruh pria dapat dinyatakan sebagai XP dan rata-rata pendapatan burh wanita XW. Maka perbedaan p-endapatan rata-rata dinyatakan sebcara simbolis sebagai XP-XW.
Kita dapat mengajukan hipotesis (H) bahwa pendapatan rata-rata antara buruh pria dan wanita berbeda sebagai H : XP = XW. Bila kita menggunakan hipotesis nol (Ho) maka dinyatakan sebagai berikut Ho : XP-XW.
Bila kita mengajukan hipotesis (H) bahwa pendapatan buruh pria lebih banyak daripada pendapatan buruh wanita kita dapat melambangkan sebagai berikut H:XP>XW dan hipotesis nolnya sebagai Ho:XP≤XW.
3.3 Karakteristik Hipotesis
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar. Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah memenuhi syarat secara proporsional, jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:
1.        Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.
2.        Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.
3.        Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena yang diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisiukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.
4.        Hipotesis harus bebas nilai. Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subyektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.
5.        Hipotesis harus dapat diuji. Untuk itu instrumen harus ada yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi. Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya. Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.
6.        Hipotesis harus spesifik. Hipotesis harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan sebenarnya. Peneliti harus bersifat spesifik yang menunjuk kenyataan yang sebenarnya. Peneliti harus memiliki hubungan eksplisit yang diharapkan di antara variabel dalam istilah arah (seperti, positif dan negatif). Satu hipotesis menyatakan bahwa X berhubungan dengan Y adalah sangat umum. Hubungan antara X dan Y dapat positif atau negatif. Selanjutnya, hubungan tidak bebas dari wakturuang, atau unit analisis yang jelas. Jadi, hipotesis akan menekankan hubungan yang diharapkan di antara variabel, sebagaimana kondisi di bawah hubungan yang diharapkan untuk dijelaskan. Sehubungan dengan hal tersebut, teori menjadi penting secara khusus dalam pembentukan hipotesis yang dapat diteliti karena dalam teori dijelaskan arah hubungan antara variabel yang akan dihipotesiskan.
7.        Hipotesis harus menyatakan perbedaan atau hubungan antar-variabel. Satu hipotesis yang memuaskan adalah salah satu hubungan yang diharapkan di antara variabel dibuat secara eksplisit.
3.4 Tahap-Tahap Pembentukan Hipotesis Secara Umum 
Tahap-tahap pembentukan hipotesa pada umumnya sebagai berikut:
1.        Penentuan masalah.
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
2.        Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis). Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer,pengamatan tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan masalahyang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
3.        Pengumpulan fakta.
Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
4.        Formulasi hipotesa.
Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.Pengujian hipotesa
Artinya, mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diamati dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran).Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Falsifikasi (penyalahan) terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa. Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
5.        Aplikasi/penerapan.
Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta.Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
3.5 Hubungan Hipotesis Dan Teori 
Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini, diturunkan, atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, merupakan hanya merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab, teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori.
Agar teori yang digunakan sebagai dasar penyusunan hipotesis dapat diamati dan diukur dalam kenyataan sebenarnya, teori tersebut harus dijabarkan ke dalam bentuk yang nyata yang dapat diamati dan diukur. Cara yang umum digunakan ialah melalui proses operasionalisasi, yaitu menurunkan tingkat keabstrakan suatu teori menjadi tingkat yang lebih konkret yang menunjuk fenomena empiris atau ke dalam bentuk proposisi yang dapat diamati atau dapat diukur. Proposisi yang dapat diukur atau diamati adalah proposisi yang menyatakan hubungan antar-variabel. Proposisi seperti inilah yang disebut sebagai hipotesis.
Jika teori merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-konsep (pada tingkat abstrak atau teoritis), hipotesis merupakan pernyataan yang menunjukkan hubungan antar-variabel (dalam tingkat yang konkret atau empiris).Hipotesis menghubungkan teori dengan realitas sehingga melalui hipotesis dimungkinkan dilakukan pengujian atas teori dan bahkan membantu pelaksanaan pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Oleh sebab itu, hipotesis sering disebut sebagai pernyataan tentang teori dalam bentuk yang dapat diuji (statement of theory in testable form), atau kadang-kadanag hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan tentatif tentang realitas (tentative statements about reality).
Oleh karena teori berhubungan dengan hipotesis, merumuskan hipotesis akan sulit jika tidak memiliki kerangka teori yang menjelaskan fenomena yang diteliti, tidak mengembangkan proposisi yang tegas tentang masalah penelitian, atau tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan teori yang ada. Kemudian, karena dasar penyusunan hipotesis yang reliabel dan dapat diuji adalah teori, tingkat ketepatan hipotesis dalam menduga, menjelaskan, memprediksi suatu fenomena atau peristiwa atau hubungan antara fenomena yang ditentukan oleh tingkat ketepatan atau kebenaran teori yang digunakan dan yang disusun dalam kerangka teoritis. Jadi sumber hipotesis adalah teori sebagaimana disusun dalam kerangkateoritis. Karena itu, baik-buruknya suatu hipotesis bergantung pada keadaan relatif dari teori penelitian mengenai suatu fenomena sosial disebut hipotesis penelitian atau hipotesis kerja. Dengan kata lain, meskipun lebih sering terjadi bahwa penelitian berlangsung dari teori ke hipotesis (penelitian deduktif), kadang-kadang sebaliknya yang terjadi.






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hipotesis dapat diartika sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
Hipotesis memiliki beberapa jenis :
1)        Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris.
2)        Hipotesis yang berkenaan dengan model ideal
3)        Hipotesis yang mencari hubungan antara sejumlah variable yang terbagi menjadi tiga diantaranya :
a)         Hipotesis kerja
b)        Hipotesis nol
c)         Hipotesis statistic
Cara menguji hipotesis disini ada benar tidaknya hipotesis, tidak ada hubungannya dengan terbukti dan tidaknya hipotesis tersebut. Maka perlu adanya pembuktian secara langsung baik secar pengambilan sampel interviu atau yang lainnya.
3.2 Saran-Saran
Penulsi mengharapkan agar apa yang sudah dijelaskan diatas dapat difahami oleh pembaca. Selanjutnya kritik dan sran dari pembaca sebagai pembangun sangat diharapkan guna perbaikan dalam pembuatan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta : P.T Rineka Cipta.
Tritan, Hariwijaya. 2008. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi.Yogyakarta : Tugu Publisher.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : CV. Afabeta.
Karisam, Muhammad. 2008. Metodologi Penelitian. Malang : UIN Malang Press.
Yahya, Islachuddin. 2007. Tehnik Penulisan Kerangka Ilmiah. Surabaya : PN. Surya Jaya Raya.
Nasution. 2007. Metode Research. Jakarta : P.T Bumi Aksara.

Bookmark and Share

JANGAN LUPA KLIK IKLANNYA YAA..
1 X KLIK SANGAT BERARTI

Anda sedang membaca artikel Makalah Hipotesis. Terimakasih atas kunjungan serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jika memang bermanfaat, Anda boleh menyebarluaskannya dan jangan lupa untuk menyertakan sumber link dibawah ini:

http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2013/06/makalah-hipotesis.html

0 comments:

Posting Komentar