EnsikloPenjas

Kamis, 08 Desember 2011

Pengertian Belajar Dan Pembelajaran Motorik

A.       Belajar dan Pembelajaran
1.      Tinjauan dari segi Ontologi
Pengertian ”Belajar” sangat bervariasi menurut beberapa ahli, Gagne dan Briggs mendefinisikan belajar sebagai serangkaian proses kognitif yang mentransformasi stimulasi dan lingkungan ke dalam beberapa fase pemrosesan informasi yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu kapabilitas yang baru . Sedangkan menurut Bell Gredler bahwa belajar sebagai proses perolehan berbagai kompetensi. keterampilan, dan sikap. Sedangkan definisi belajar yang didasarkan pada prespektif behavioristik menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang memiliki tiga ciri, yaitu: (1) proses tersebut membawa perubahan baik aktual maupun potensial, (2) perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru, dan (3) perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar . Setyosari dan Sihkabuden berpendapat bahwa pembelajaran sebagai suatu sistem terdiri atas komponen-komponen, yaitu: tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, yang didalamnya termasuk penggunaan metode pembelajaran, alat dan sumber pembelajaran, serta penilaian hasil belajar . Menurut Sanjaya pembelajaran diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa .
Jadi dari definisi diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian belajar adalah proses transformasi ilmu guna memperoleh kompetensi, keterampilan, dan sikap untuk membawa perubahan yang lebih baik. Sedangkan kegiatan pembelajaran merupakan suatu sistem dan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
2.      Tinjauan dari segi Epistomologi
Ada beberapa cara dalam melakukan proses belajar, diantaranya adalah melalui teori belajar kognitif yang menjelaskan belajar dengan berfokus pada perubahan-perubahan proses mental internal yang digunakan dalam upaya memahami dunia eksternal.
Perspektif kognitif. belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang yang memberikan kapasitas untuk menunjukkan perubahan perilaku. Struktur mental ini meliputi pengetahuan. keyakinan. keterampilan, harapan dan mekanisme lain. Fokus teori kognitif adalah potensi untuk berperilaku dan bukan pada perlakunya sendiri. Teori belajar kognitif menekankan pentingnya proses-proses mental seperti berpikif. dan memfokuskan pada apa yang .terjadi pada pemelajar. Proses ini memungkinkan pemelajar untuk menginterpretasi dan mengorganisir informasi secara aktif.
Cara melakukan proses belajar yang lain adalah dengan teori konstruktivis yang memandang ilmu pengetahuan bersifat non-objective, temporer, dan selalu berubah. Pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognisi si pemelajar bukan berada secara terpisah di luar diri si pemelajar. Oleh karena itu, belajar menurut konstruktivis dapat dirumuskan sebagai penyusunan pengetahuan dan pengalaman kongkrit, melalui aktivitas kolaboratif, refleksi dan interpretasi. Aktivitas yang demikian memung-kinkan si pemelajar memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
Sedangkan cara belajar berdasarkan teori behavioristik menekankan proses belajar sebagai perubahan relatif permanen pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai basil pengalaman. Seluruh kegiatan belajar adalah didasarkan pada jaringan asosiasi atau hubungan (bonds) yang dibentuk antara stimulus dan respon, teori ini juga disebut trial and error learning. Hal ini karena hubungan yang terbentuk antara stimulus dan respon tersebut timbul terutama melalui trial and error, yaitu suatu upaya mencoba berbagai respon untuk mencapai stimulus meski berkali-kali me-ngalami kegagalan.
3.      Tinjauan dari segi Aksiologi
Ada banyak manfaat dan hasil dari proses belajar, hasil belajar adalah perubahan perilaku yang teradi pada diri individu yang belajar. Menurut Gagne dan Briggs, hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh seseorang setelah ia mengikuti suatu proses pembelajaran tertentu . Reige Luth mengatakan bahwa hasil belajar adalah perilaku yang dapat diamati yang menunjukkan kemampuan yang dimiliki seseorang.
Menurut Bloom, bentuk hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran meliputi tiga domain, yaitu: kognitif, afektif. dan psikomotorik Kognitif adalah hail belajar berupa kernampuan mengingat atau mereproduksi hal-hal yang telah dipelajari, juga berupa kemampuan menyelesaikan tugas-tugas intelektual guna menentukan masalah mendasar dan kemudian menyusun ulang bahan-bahan yang diajarkan atau mengkombinasikanya dengan ide, metode, atau prosedur yang dipelajari sebelumnya afektif adalah basil belajar berupa kondisi perasaan, emosi. atau tingkat penerimaan atau penolakan terhadap din sendiri, guru. petajaran, atau semua hal yang berkaitan dengan apa yang dipelajari. Sedangkan psikomotorik adalah hasil belajar berupa kemampuan motorik. memanipulasi benda dan objek. atau melakukan tindakan-tindakan yang membutuhkan koordinasi neuromuscular.
Hasil pembelajaran dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu: efektivitas pembelajaran. efisiensi pembelajaran. dan daya tarik pem-belajaran . Efektivitas pembelajaran diukur dan tingkat prestasi yang dicapai siswa. Prestasi siswa bentuknya bermacam-macam mulai dari yang sifatnya pengetahuan genenik seperti mamptu memecahkan masalah. mampu menemukan hubungan, mampu berpikir logis hingga pengetahuan yang sifatnya spesifik.
B.                 Pembelajaran Motorik
1.      Tinjauan dari segi Ontologi
Pembelajaran motorik didefinisikan sebagai proses belajar keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran/keahlian motorik.
Ada empat konsep yang tercermin dalam pembelajaran motorik, yaitu: (1) Pelajaran adalah suatu proses dari memperoleh kemampuan untuk tindakan yang trampil. (2) Pelajaran diakibatkan oleh pengalaman atau praktek. (3) Pelajaran tidak bisa diukur secara langsung; sebagai gantinya adalah inferred dari perilaku. (4) Hasil belajar yang relatif ada perubahan yang permanen di dalam perilaku.
Closed-Loop Teori Adams menerangkan proses pengulangan tertutup, umpan balik yang berhubungan dengan perasaan digunakan untuk produksi secara berkelanjutan dari pergerakan yang trampil. Gagasannya adalah bahwa di dalam pembelajaran motorik, umpan balik yang berhubungan dengan perasaan dari pergerakan yang berkelanjutan telah dibandingkan di dalam sistem saraf yang disimpan dimemori dari pergerakan.
Menurut Teori Bagan Schmidt, teori bagan itu menekankan kendali proses pengulangan terbuka dan konsep program motor yang disamaratakan. Schmidt yang mengusulkan program motorik itu tidak berisi pokok-pokok dari pergerakan tetapi sebagai gantinya berisi aturan umum untuk suatu kelas yang spesifik tentang pergerakan. Ia meramalkan bahwa ketika belajar suatu program motorik yang baru, individu yang belajar suatu yang umum satuan perintah bahwa dapat diberlakukan diberbagai konteks.
Teori ekologis dari Karl Newell menyatakan bahwa pelajaran motorik adalah suatu proses meningkatkan koordinasi antara persepsi dan tindakan dengan cara konsisten dengan tugas dan batasan lingkungan.
Dari beberapa istilah diatas, dapat diambil benang merah menurut penulis, bahwa pembelajaran motorik adalah proses belajar keahlian gerakan dan penghalusan kemampuan motorik serta variabel yang mendukung atau menghambat kemahiran/keahlian motorik yang digunakan secara berkelanjutan dari pergerakan yang trampil
2.      Tinjauan dari segi Epistomologi
Langkah-langkah awal didapatnya ketrampilan dan menguraikan pembelajaran motorik yang terjadi.

1.1.            Faktor-Faktor Penghambat Pembelajaran Motorik
Pendidikan jasmani (Penjas) merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskular, perseptual, kognitif, sosial dan emosional. Dua diantara tujuan-tujuan Penjas menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) 2006 adalah: (1) Mengembangkan ketrampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup melalui berbagai aktivitas jasmani, (2) Mengembangkan kemampuan gerak dan ketrampilan berbagai macam permainan dan olahraga.
Salah satu penekanan pada standar isi Penjas yang terangkum dalam BSNP 2006 di Sekolah Dasar (SD) adalah menstimulasi kemampuan gerak dasar peserta didik seperti:
1)      Lokomotor (berjalan, berlari, melompat, dan lain-lain),
2)      Non-lokomotor (memutar, meliuk, membungkuk, menengadah, dan lain-lain),
3)      Manipulatif (melempar, menangkap, menggulirkan, dan lain-lain).
Salah satu masalah utama dalam Penjas di Indonesia dewasa ini ialah belum efektifnya pengajaran Penjas di sekolah-sekolah. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya terbatasnya sarana dan prasarana yang digunakan untuk mendukung proses pembelajaran Penjas dan terbatasnya kemampuan guru Penjas untuk melakukan pembelajaran Penjas. Salah satu keterbatasan guru Penjas dalam mengajar adalah dalam hal menciptakan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa. Akibatnya guru belum berhasil melaksanakan tanggung jawab untuk mendidik siswa secara sistematik melalui gerakan Penjas yang mengembangkan kemampuan ketrampilan anak secara menyeluruh baik fisik, mental maupun intelektual (Kantor Menpora, 1983).
Menurut Agus Mahendra (2006) indikator keberhasilan Penjas ditandai oleh meningkatnya: (1) Kebugaran jasmani, (2) Kemampuan fisik dan motorik, (3) Pemahaman konsep dan prinsip gerak, (4) Kemampuan berfikir, (5) Kecakapan rasa dan sosial.
Agar pembelajaran Penjas khususnya materi gerak dasar dapat berhasil, maka harus diciptakan lingkungan yang kondusif diantaranya dengan cara memodifikasi alat dan menciptakan model-model pembelajaran. Model-model pembelajaran diciptakan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, lima diantaranya yaitu: (1) Kegiatan pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan belajar. (2) Karakteristik mata pelajaran. (3) Kemampuan guru. (4) Fasilitas/media pembelajaran masih sangat terbatas. (5) Kemampuan siswa.
Dilihat dari karakteristik anak, dunia anak adalah dunia bermain. Siswa SD yang masih tergolong anak-anak bentuk aktivitasnya cenderung berupa permainan. Seperti pada saat jam istirahat mereka sangat antusias untuk melakukan bermacam-macam bentuk permainan. Tanpa disadari mereka sering bermain dengan melakukan gerakan-gerakan dasar dalam cabang olahraga.
Agar tujuan Penjas dapat dicapai maka penyampaian materi pembelajaran Penjas pada anak SD harus disampaikan dalam situasi bermain. Penelitian tentang aplikasi model pembelajaran bermain kaitannya dengan hasil pembelajaran Penjas dan peningkatan kualitas fisik sudah banyak dilakukan. Penelitian Saharuddin Ita (2001: V) menyimpulkan bahwa kesegaran jasmani anak SD dapat ditingkatkan melalui permainan tradisional. Tetty Nur Dianasari (2005: V) membandingkan metode latihan dan metode bermain terhadap hasil pempelajaran lompat jauh gaya jongkok, ternyata dengan metode bermain hasilnya lebih baik. Menurut Bowo Santoso jenis permainan perorangan lebih baik dalam meningkatkan kesegaran jasmani siswa jika dibandingkan dengan permainan beregu (2005 :V). Permainan perorangan juga lebih baik dalam meningkatkan kemampuan motorik siswa (Anita Pramintyastuti, 2005 :V). Penelitian di atas diterapkan pada anak SD kelas 4, 5 dan 6 tetapi belum ada penelitian yang serupa yang dikenakan pada anak kelas 2.

Bookmark and Share

JANGAN LUPA KLIK IKLANNYA YAA..
1 X KLIK SANGAT BERARTI

Anda sedang membaca artikel Pengertian Belajar Dan Pembelajaran Motorik. Terimakasih atas kunjungan serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Jika memang bermanfaat, Anda boleh menyebarluaskannya dan jangan lupa untuk menyertakan sumber link dibawah ini:

http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2011/12/pengertian-belajar-dan-pembelajaran.html

0 comments:

Posting Komentar